Labels

Followers

Translate

Saturday, July 3, 2010

kunjungan BIN di kajen 2

Pati, Jawa Tengah ( Berita ): Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar mengadakan silahturahmi sekaligus memberikan ceramah pada alim ulama, tokoh masyarakat se-Kabupaten Pati dan santri pondok pesantren Salafiyah, Kajen-Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, Sabtu [20/12].

Sebelumnya Kepala BIN mengadakan pertemuan empat mata dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kyai Haji Sahal Mafudzh di Pondok Pesantren Maslahul Huda (PMH) dan dilanjutkan peninjauan sejumlah fasilitas pondok pesantren.Pesantren Salafiyah Kajen yang dulu dikenal sebagai pesantren Weton Banon, didirikan pada 12 Mei 1902 oleh KH Sirodj, salah satu keturunan Syekh Mutamakkin, yang merupakan ulama penyebar Islam dan pembangun tradisi Jawa hingga berhasil menjaga kredibilitas ulama dan peran sejati ulama pada abad ke-18 di Desa Kajen, Pati.
Dengan keistimewaan dan peranannya dalam mencerdaskan umat, membangun dan melestarikan perjuangan mempertahankan NKRI, KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, menyempatkan diri berziarah ke Makam Syekh Mutamakkin, setelah dilantik sebagai presiden RI yang keempat.
Silahturahmi Kepala BIN Syamsir Siregar ke Pondok Pesantren Salafiyah merupakan rangkaian Pekan Muharam Yayasan Salafiyah Kajen memperingati Haul Syekh Mutamakkin yang akan berlangsung mulai 5 Januari 2009.
Ketua Panitia KH Ubaidillah mengatakan, dengan silahturahmi itu, diharapkan mampu membangun dan memantapkan kesadaran ulama dan umaro dalam menjaga stabilitas ketahanan dan keamanan negara dari segala ancaman keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Yayasan Salafiyah kini memiliki 3.000 pelajar dan santri yang dibekali dengan ilmu keagamaan dan wawasan kebangsaan.

Kyai Berpolitik Umat Terabaikan
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar mengemukakan,
banyaknya kyai dan ulama yang berpolitik praktis membuat umat terabaikan dan terpecah-pecah.
?Saat ini banyak kyai terpecah-pecah karena jalur politik praktis yang dipilihnya. Ini sangat disayangkan karena masyarakat jadi kesulitan mencari panutan dan umat jadi terabaikan,? katanya, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sabtu.
Syamsir mengatakan, berpolitik praktis memang hak setiap warga negara terutama dalam negara demokrasi seperti Indonesia. ?Tetapi jangan sampai karena kyainya berpolitik, pesantren dan umat jadi turut terpecah-pecah,? katanya. Syamsir yang tengah mengadakan kunjungan silahturahmi ke alim ulama, tokoh masyarakat se-Kabupaten Pati serta santri Yayasan Salafiyah itu mengungkapkan, masyarakat kini kesulitan untuk mencari panutan. Salah satunya karena para ulama kini banyak yang disibukkan oleh kegiatan politik.
?Akhirnya, pondok pesantren yang semula menjadi subyek, malah menjadi obyek dari berbagai kepentingan. Tradisi yang selama ini memberikan ketenangan, kini sedikit terusik oleh kegiatan politik yang penuh nuansa kepentingan,? katanya.
Hal itu diakui pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah KH. Asmu'i Hasan yang mengatakan, banyak kyai yang kini lebih berkecimpung dalam kegiatan politik dibanding pembinaan umat. ?Saat ini memang banyak kyai dan ulama yang fokus ke masalah duniawi termasuk politik sehingga pembinaan terhadap masalah-masalah akhirat agak terbengkalai,? ujarnya.
Seharusnya, tambah Asmu'i, antara kebutuhan duniawi dan akhirat harus dijalankan secara seimbang. Peran ulama sebagai pembina umat harus sejalan dengan perannya di politik. Karenanya, lanjut dia, para kyai dan ulama harus kembali ke ?barak? tidak terlalu fokus pada kegiatan politik praktis. ?Kyai atau ulama berpolitik tidak dilarang atau harus. Tetapi jangan sampai mengesampingkan tugas pokoknya sebagai pembina umat,? katanya menegaskan.
Jelang Pemilu 2009 Kondusif
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar mengemukakan, situasi keamanan menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 relatif aman dan kondusif. ?Sampai saat ini situasi keamanan kita cukup baik,? katanya, menjawab Indonesiafile.com setelah memberikan ceramah kepada para alim ulama dan tokoh masyarakat serta santri Pondok Pesantren Salafiyah, Kajen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sabtu [20/12].
Ia mengatakan, pihaknya belum melihat ada indikasi ancaman gangguan keamanan yang dapat menghambat pelaksanaan Pemilu 2009. ?Situasi yang kondusif ini, salah satunya juga didukung kesadaran masyarakat untuk menciptakan situasi keamanan yang stabil menjelang Pemilu. Ya?kita berdoa saja agar Pemilu benar-benar dapat terlaksana dengan baik,? kata Syamsir.
Tentang ancaman terorisme, khususnya menjelang Hari Natal dan pergantian tahun, ia mengemukakan, ancaman tersebut tetap ada. ?Ancaman itu tetap ada tetapi saat ini tidak begitu serius. Namun, harus tetap kita waspadai,? ujarnya.
Sementara dalam ceramahnya, Kepala BIN mengungkapkan, krisis ekonomi global dapat memberikan dampak negatif yakni menyuburkan radikalisme agama sebagai bentuk perlawanan terhadap barat. Ia mengatakan, Indonesia juga dihadapkan pada persoalan kebebasan beragama terkait munculnya berbagai aliran agama yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. ?Karena itu, saya berharap ulama dan tokoh masyarakat dapat memberikan pembinaan, penyadaran dan pencerahan bagi umat Islam agar kembali ke ajaran yang benar dan tidak mudah masuk dalam aliran yang menyimpang,? ujarnya.
Syamsir mengatakan, para ulama dan kalangan pesantren harus mampu lebih meningkatkan ketahanannya hingga tidak terseret pada ajaran-ajaran sesat. Bagaimana pun, peran pesantren tidak bisa dilepaskan dari terciptanya ketahanan dan keamanan nasional, serta kemandirian bangsa. ?Ketahanan nasional tidak bisa dilepaskan dari ketahanan pondok pesantren. Terciptanya keamanan negara sangat diperlukan dalam perikehidupan berbangsa dan bernegara,? katanya.
Kepala BIN menegaskan, stabilitas keamanan tidak bisa dari keimanan saja. Ketika keimanan lenyap maka keamanan akan tergoncang. ?Keimanan dan keamanan adalah dua hal yang saling mendukung,? ujarnya. Syamsir mengemukakan, cara penting yang harus ditempuh dalam menciptakan keamanan adalah dengan menyebarkan dakwah menuju aqidah yang sesuai dengan ajaran agama.

0 comments:

Post a Comment