Sabtu, 03 Juli 2010

Jelang Muktamar Nu ke 32 Syuriyah NU Berkumpul di Pesantren KH Sahal Mahfudh


Image
Para pengurus syuriyah NU baik dari perwakilan tingkat pengurus besar, wilayah dan cabang berkumpul di Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso Pati dalam acara silaturrahmi Rais Syuriyah dan Para Kiai, Ahad (7/3). Pesantren Maslakul Huda sendiri dipimpin oleh KH Sahal Mahfudh yang juga Rais Aam Syuriyah PBNU.

Selain Kiai Sahal, hadir Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU KH Musthofa Bisri, Wakil Katib Syuriyah PBNU KH Malik Madani, Mustasyar PWNU Sumatera Barat Buya Bagindo Letter, Tokoh NU Cirebon Abah Ayip, perwakilan Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan, Riau, Sumatra Selatan, dan dan perwakilan beberapa pengurus cabang dari luar Jawa. Mustasyar PBNU AGH Sanusi Baco dari Makassar diwakili putranya Dr Nur Taufiq.

Wakil Katib Syuriyah PBNU KH Malik Madani yang memandu silaturrahim mengatakan, para ulama yang duduk di jajaran syuriyah bertugas membimbing warga agar sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat. "Karenanya Syuriyah adalah posisi sentral di NU,” katanya.

AGH Sanusi Baco yang dalam sambutan tertulis yang dibacakan putranya Dr Nur Taufiq, mengatakan, ulama adalah orang yang merepresentasikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan mampu mengayomi umat.

“Ulama bukan sekedar pandai bicara, dan disenangi satu kelompok umat saja. Ulama harus bisa mengayomi semua umat,” kata AGH Sanusi Baco dalam sambutan tertulisnya.

Rais Syuriyah PBNU KH Maruf Amin mengatakan, NU adalah harokatul ulama, atau gerakan para ulama. Ulama yang dimaksud di sini adalah ulama yang bisa membenahi kemaslahatan umat. Maka rais atau pemimpin NU dari kalangan ulama haruslah orang-orang yang alim dan dipercaya umat.

“Ulama dalam Nahdlatul Ulama harus berdedikasi li islahil ummah wal alam (memperbaiki umat dan dunia),” kata Kiai Ma’ruf.
sumber : NU Online
PENGUMUMAN PENERIMAAN PESERTA PROGRAM BEASISWA SANTRI BERPRESTASI (PBSB) KEMENTERIAN AGAMA RI TAHUN

Kebijakan pembangunan pendidikan mencakup tiga aspek yaitu: perluasan akses, peningkatan mutu, dan tata kelola. Perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan Islam mengisyaratkan keseriusan Kementerian Agama RI dalam meningkatkan angka partisipasi masyarakat di dunia pendidikan. Dalam rangka meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi santri berprestasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. bermaksud menjaring santri terbaik di kelas III pada Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat di pondok pesantren untuk mengikuti program pendidikan tinggi melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).


PERSYARATAN SELEKSI
a. Tercatat sebagai siswa/i kelas III Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat
di pondok pesantren.
b. Berstatus sebagai santri aktif yang bermukim dan belajar/nyantri di pondok pesantren
sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun.

c. Sehat jasmani dan rohani.
d. Pada saat mendaftar berumur tidak lebih dari 20 tahun, terhitung tanggal
13 Maret 2010.
e. Memiliki prestasi yang baik selama pendidikan 5 semester berturut-turut dengan nilai minimal 70 (skala 100) untuk tiap mata pelajaran:

Program IPA : Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa Inggris.
Program IPS : Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Program Bahasa : Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Antropologi, Sastra Indonesia dan Bahasa Asing lain.
Program Keagamaan : Bahasa Arab, Ilmu Hadist, Ilmu Tafsir, Fiqih, Bahasa Inggris.

f. Diajukan oleh Pimpinan Pondok Pesantren santri yang bersangkutan.


WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
Pendaftaran dimulai pada tanggal 5 Februari s/d 5 Maret 2010 di Kantor Wilayah Kementerian Agama masing-masing.

MATERI TEST/SELEKSI
1. Test Bakat Skolastik (TBS)
2. Test Kemampuan Akademik
3. Test Kemampuan Bahasa Inggris
4. Test Kepesantrenan
5. Test Bahasa Arab

WAKTU DAN TEMPAT SELEKSI
Seleksi dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2010 di 29 Kantor Wilayah Kementerian Agama RI.


PEMBIAYAAN
Kementerian Agama RI akan menanggung komponen pembiayaan sebagai berikut:
1. Biaya seleksi.
2. Biaya pendidikan pre-university (matrikulasi/orientasi/bridging program).
3. Biaya pendidikan (SPP dan Sumbangan Dana Pengembangan Akademik (SDPA).
4. Bantuan Biaya hidup (living cost).


PERGURUAN TINGGI MITRA

Peserta yang lulus seleksi akan studi pada perguruan tinggi mitra: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Mataram, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan IAIN Walisongo Semarang.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Panitia Seleksi Peserta PBSB Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. dengan nomor telepon 021-3811810 atau melalui website http://www.pondokpesantren.net
Kunjungan Rektor Al-Ahgaf di Maslakul Huda

Image

Pada tanggal 29 Januari 2010, Rektor Al-Ahgaf Yaman, Prof Dr Habib Abdullah Baharun MA berkunjung ke Maslakul Huda dalam rangka sowan kepada Pengasuh Maslakul Huda, KH. MA. Sahal Mahfudh. Kedatangan Beliau di Maslakul Huda di dampingin oleh Habib Zein bin Aqil, Habib Hasan Al-Jufri (Cirebon), Habib Umar Muthohar (Semarang) dan Gus Zaim (Lasem).

Dalam kesempatan tersebut beliau mengingatkan kepada para kyai dan ulama di Indonesia untuk terus berupaya keras membentengi santri dan muridnya dari pikiran-pikiran barat gharbiyyah). “Dengan berlabel isu HAM dan gender mereka seolah-olah bebas menafsirkan Al-qur’an dan Hadits semaunya sendiri. Hampir semua negara Islam termasuk Indonesia dan Yaman mengalami ancaman ini” Tegas beliau.

Prof Dr Habib Abdullah Baharun MA, selanjutnya mencontohkan pemikiran Barat yang marak di Indonesia antara lain tuntutan nikah sesama jenis, perempuan mengimami salat lelaki, jilbab yang mengekang wanita, dan minumankeras ebagai penghangat tubuh tidak haram.

Beliau juga bersilaturahim dengan keluarga besar pesantren Darul Falah Jekulo Kudus milik KH Ahmad Basyir. Menurut beliau Indonesia adalah sebagai negara Islam terbesar di dunia menjadi benteng pertahanan paham ahlussunnah wal jamaah.

Di edit dari Suara Merdeka, 30 Januari 2010.

Reuni IKABA (Ikatan Alumni Pesilba)


Kamis 24 Desember 2009 dini hari lalu, kompleks Pesantren Maslakul Huda diramaikan oleh deretan kendaraan-kendaraan yang terparkir di halaman gedung Putera. Serta hiruk pikuk para penumpang dan pengendaranya yang sedari pagi bergerombol di depan kantor Biro. Yang lebih menarik, keramaian tersebut di dominasi oleh kaum perempuan.

Para perempuan itu berduyun-duyun memadati kompleks pesantren bukan untuk berdemo atau berorasi, termasuk bukan dalam rangka memperingati hari ibu. Lebih dari itu, hari yang bertepatan dengan tanggal 7 Muharrom tersebut pesantren Maslakul Huda, terutama pesantren puterinya yakni Al Badi’iyyah memiliki acara spesial. Yakni reuni akbar alumni pesantren putri al badi’iyyah. Acara temu kangen yang diadakan oleh IKABA ( Ikatan Alumni Al Badi’iyyah ) itu semakin mendukung kemeriahan desa Kajen, karena bertepatan dengan peringatan haul hadratus Syaich KH. A. Mutamakkin yang berlangsung pada minggu tersebut.

Akn tetapi, gedung Auditorium BPPM PMH yang berperan sebagai tempat berlangsungnya acara baru dipenuhi oleh tamu undangan sekitar pukul 09.00 WIB. Padahal sebagian besar tamu sudah datang sejak pagi, bahkan ada yang sejak sehari yang lalu menginap di pondok puteri. Sebagian besar dari mereka memilih untuk sowan terlebih dahulu di kediaman pengasuh yakni KH. MA. Sahal Mahfudh dan Ibu Dra. Hj. Nafisah Sahal sebelum memasuki ruang auditorium. Agenda acara yang semula dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB, akhirnya harus diundur menjadi pukul 09.00 WIB.

“Tujuan diadakannya acara yang mulai tahun ini diadakan setiap tiga tahun sekali ini –sebelumnya dua tahun sekali- , selain dalam rangka temu kangen antar alumni santri, juga sebagai ajang sosialisasi kepada para alumni mengenai perkembangan pesantren Maslakul Huda dan Al Badi’iyyah, temu pengasuh, serta dalam rangka evaluasi yang mana ingin mengajak para alumni untuk ikut serta memberi masukan dalam usaha pengelolaan pesantren kedepan”. Hal tersebut yang disampaikan oleh Ibu Hj. Nafisah Sahal dalam pidato beliau menyambut para tamu undangan.

Yang menjadikan acara reuni kali ini berbeda dari dari tahun-tahun sebelumnya, diantaranya adalah antusiasme para tamu undangan, yang mana pada tahun-tahun sebelumnya tamu undangan yang hadir hanya terpusat pada yang berdomisili di sekitar Pati dan Jepara, kali ini kehadiran lebih merata. Dari 500 lebih undangan yang tersebar di kota-kota di jawa dan sumatera, tercatat hampir 200 undangan yang hadir dan rata-rata domisilinya merata. Hampir merata dari setiap kota yang tercantum dalam undangan –kecuali sumatra yang sama sekali nihil- diantaranya yakni Cirebon, Pati, Jepara, Semarang, Jombang, Rembang, Klaten, Jakarta, Blora, Demak, Kudus, Djogja, Tuban, dan beberapa kota lain masih di pulau Jawa. Jadi meski dari segi kuantitas tidak jauh beda dari tahun sebelumnya, akan tetapi dari segi kualitasnya, penyelenggaraan tahun ini lebih merata dibanding sebelumnya.

Perbedaan lain yang terlihat dengan adanya penampilan group rebana dari santri Al Badi’iyyah, artinya santri pesilba yang masih eksis juga ikut serta memeriahkan jalannya acara.

Selain itu, yang pada yang pada acara-acara sebelumnya selalu difokuskan pada ceramah ilmiah oleh abah sahal sendiri, kali ini berbeda. Para tamu undangan yang hadir bukan hanya sebagai alumni yang pasif akan tetapi juga sebagai partisipan yang memeriahkn jalannya acara. Seperti beberapa sambutan diantarnya dari ketua panitia penyelenggara IKABA, dari perwakilan alumni, serta sesi sharing bersama Ibu Hj. Masriah Amfa, alumni dari Cirebon yang berbagi pengalaman mengenai perjalanan hidup beliau. Kemeriahan acara juga didukung dengan adanya agenda acara yang tidak terduga. Yakni tahlil yang dipimpmn oleh salah satu alumni, dan penampilan ibu – ibu alumni yang ikut melantunkan beberapa lagu nasyid dan sholawat bersama grup rebana Pesiba.

Kemudian untuk acara inti sendiri, Bapak H. Faroeq Barlian selaku Pembantu Pengasuh Bidang Pendidikan diminta untuk mengisi ceramah ilmiah yang mana pada tahun – tahun sebelumnya selalu diisi oleh Abah Sahal. Dan kali ini mengusung tema mengenai Pendidikan.

Dari rangkaian acara yang di usung memeng berkesan formal. Sehingga pada akhir acara, beberapa tamu undangan mengusulkan agar acara reuni berikutnya di buat lebih sederhana dan santai, sehingga suasana kekeluargaan dapat di hidupkan. Kenyataannya pada acara inti yakni pada saat penyampaian materi oleh Bapak Faroeq, sebagian besar bahkan hampir seluruh tamu undangan justru memilih untuk “reuni sendiri” dari pada mendengarkan materi dengan seksama. Hanya sebagian kecil yang mengikuti jalannya materi dengan fokus. Berbeda ketika acara beranjak pada sesi sharing, mata yang sebelumnya tidak terfokus pada acara, sebagian besar mengalihkan perhatian ke depan. Jadi dapat di simpulkan, acara memang cukup sukses jika dilihat dari antusiasme dan partisipasi tamu undangan dalam menghadiri acara. Akan tetapi jika dilihat dari efektifitas agenda acaranya, acara ini cenderung kurang berhasil.

Agenda acara diakhiri dengan pembacaan keuangan IKABA, dan disusul pembentukan personalia kepengurusan IKABA untuk periode berikutnya. Ternyata meskipun para pelaku dalam organisas ini adalah para perempuan dewasa, dan kebanyakan telah berkeluarga, akan tetapi pada sesi terakhir ini suasananya tidak jauh berbeda bahkan bisa dibilang lebih kacau jika dibanding dengan kumpulnya anak-anak usia sekolah. Dan yang terakhir sebagai tanda perpisahan kembali, acara ditutup dengan mushofahah yang diiringi canda tawa para “perempuan senior Al – Badi’iyah”.

Momen Syuro memang selalu dinanti oleh masyarakat Kajen, terutama bagi mereka yang berstatus sebagai santri. Tidak hanya meriah dengan pawai dan padatnya para pedagang, akan tetapi tidak lupa juga memetik sedikit barokah Hadratus Syaikh terkasih K.H.A.Mutamakkin sebagai tujuan utama kemeriahan syuro ini. Semoga momen IKABA di syoro kali ini selain menjadi ajang mengenang kembali masa- masa menuntut ilmu di Al- Badi’iyah, juga dapat menguatkan tali silaturrahmi serta sebagai ajang meraih barokahnya Mbah Mutamakkin. Amien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar