Labels

Followers

Translate

Saturday, July 3, 2010

kunjungan BIN di akjen

SEBAGAI sebuah perkampungan keagamaan Islam yang distigmatisasikan sebagai desa santri, Desa Kajen kini sudah mengalami perkembangan intelektualitas yang cukup mengagumkan. Masyarakatnya tidak hanya kaum agraris tradisional, kiai, santri, dan masyarakat desa, akan tetapi juga cendikiawan yang berfikir konstruktif dan transformatif.

Gunakan Metode Bandongan dan Sorogan

Fenomena yang muncul tersebut sebagai sebuah konsekuensi sebagian dari proses pencerahan generasi penerus Syaikh Akhmad Mutamakkin.
Secara geografis daerah Kajen berada di wilyah Tayu, Pati paling utara, yang dibentuk oleh lereng Gunung Muria yang berbukit-bukit, lembah kakinya yang subur, serta tepian pantai yang landai dengan perairan tenang. Kajen terletak di Kecamatan Margoyoso, kira-kira 18 Km dari kota Pati ke arah utara. Luas Desa Kajen hanya 63 hektar, hampir seluruh tanah berupa pekarangan dan tidak ada sawah sama sekali.
Tidak adanya tanah pertanian menyebabkan masyarakat Kajen harus bertumpu pada perdagangan, jasa angkutan, dan menjadi buruh tani atau buruh pabrik di luar desa.

Desa Kajen merupakan pusat perkembangan Islam di daerah Kabupaten Pati. Sehingga wajar, pengaruh ulama atau kiai di desa ini lebih besar dibandingkan perangkat desa atau kepala desa. Sejak abad 18, desa ini memiliki nilai historis yang istimewa. Selain merupakan desa pesantren dan pendidikan, desa ini pula terdapat makam Syekh Mutamakkin yang mempunyai andil besar dalam mengembangkan Islam di Kabupaten Pati.

Sejarah Pontren Salafiyah Kajen
BERBICARA mengenai Pondok Pesantren Kajen, tidak terlepas dari perjuangan Syekh Akhmad Mutamakkin yang pernah tinggal di sana. Menurut salah seorang keturunan Syekh Akmad Mutamakkin, Zainul Milal Bizawie mengungkapkan, bahwa embrio pesantren itu tentunya berawal dari Syekh Mutamakkin, masa sekarang. Baru pada masa cucunya, KH Ismail boleh dikatakan, pesantren pertama di Kajen mulai berdiri.

Sekitar abad ke-19 KH Ismail mendirikan pesantren di dekat masjid jami. Pesantren inilah yang diyakini sebagai pesantren pertama di Kajen dengan nama Pondok Pesantren (Pontren) Tengah yang kemudian hari bernama Pondok Pesantren Roudlotul Ulum (PRPU).

Pada sekitar tahun 1900, pesantren di Kajen mulai berbentuk klasikal atau mulai ditata rapi meski belum berbentuk madrasah atau sekolah. Embiro Pondok Kajen Wetan Banon yang berdiri tahun 1902 merupakan bentuk kepedulian KH Siroj untuk meneruskan perjuangan Syekh Mutamakkin dalam menegakkan agama Allah SWT.
Bercorak tradisional dinamis
UNTUK memulai pesantren baru, KH.Siroj hanya mempunyai beberapa orang santri saja. Tidak buruh waktu lama, pesantren ini berkembang pesat sehingga banyak santri yang belajar di sini. Kemajuan Pesantren Wetan Banon tidak dapat dipisahkan dari kepribadian KH Siroj yang merupakan ulama dan ilmuwan ternama. Komitmen dan kecintaannya pada pesantren sangatlah besar sehingga dia tinggalkan usaha berdagang untuk konsentrasi di pesantren.

Perkembangan selanjutnya, Pontren Salafiyah Kajen memiliki kekhasan, dimana setiap santri yang akan menyelesaikan studinya diharuskan dites terlebih dahulu kemampuannya dalam membaca kitab, yaitu Fiqh Tahrir dan Hadist Bulughul Marom. Sementara proses aktivitas pengajian di pesantren berjalan seperti biasa dengan metode bandongan, sorogan yang dipandang masih sangat efektif.

Untuk memperluas spektrum bidang garapan, keluarga besar Pontren Salafiyah Kajen memperluas pelayanan kemasyarakatan dengan mengonsentrasikan diri dalam penggarapan bidang keterampilan untuk para santrinya. Selain itu, juga lebih mengkhususkan diri pada bidang pengkajian falakiyah dan faraidhiyah. Pilihan garapannya adalah bidang sosial keagamaan yang dilegalkan menjadi yayasan sosial keagamaan.
Fenomena ini menunjukan bahwa keluarga Pontren Salafiyah Kajen akan semakin besar dengan kemunculan lembaga-lembaga yang mengkhususkan diri pada satu bidang garap. Semuanya harus dipahami dalam kerangka untuk meningkatkan kualitas para santri yang belajar di pesantren. Karena Pontren Salafiyah Kajen memiliki jaringan kuat untuk menampung santri-santri di pesantren sekitarnya, maka dituntut adanya peningkatan penataan yang rapi baik dari segi kurikulum maupun sistem dan kepengurusannya.

Dikunjungi Kepala BIN
BEBERAPA waktu lalu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) H Syamsir Siregar mengunjungi Pontren Salafiyah Kajen dalam sebuah acara bersamaan dengan kunjungannya ke Pontren Maslakul Huda, pimpinan KH Sahal Makhfudz, salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kunjungan Kepala BIN ke Pontren tersebut menandakan Pontren Salafiyah Kajen memiliki arti penting dan strategis yang tidak dipandang sebelah mata bagi pembangunan nasional dan politik. Dalam kunjungan itu, H Syamsir Siregar mengatakan bahwa masyarakat saat ini kesulitan mencari tokoh panutan, terutama dari kalangan kiai dari pesantren. Kondisi itu, menurut Kepala BIN karena banyak kiai yang terlibat dalam kegiatan politik praktis dan sibuk dalam partai politik.

Padahal, menurut Syamsir, ketahanan negara dan kemandirian bangsa sangat tergantung pada ketahanan pesantren.
Sekarang para kiai jadi terpecah-pecah. Kondisi seperti itu sangat kita sayangkan, oke saja untuk berdemokrasi, tapi jangan sampai pesantren menjadi terpecah-pecah, katanya.
Sementara Pengasuh Pontren Salafiyah Kajen, KH Asmui Hasan kepada Pelita mengungkapkan rasa keprihatinannya atas banyaknya ulama atau kiai dari pesantren yang terlibat dalam kegiatan politik praktis.

Seharusnya ulama dapat menjadi sosok pemersatu dan panutan umat.
Memang sekarang ini terjadi krisis keteladanan. Seorang ulama seharusnya fokus mengayomi dan ngemong umat agar berakhlak, berwawasan, dan punya pandangan yang luas demi bangsa dan negara ini, ujar Asmui.
Untuk bisa seperti itu, tambah Asmui, tidak lantas para ulama atau kiai diharuskan menjauhkan diri dari politik praktis atau terlibat dalam partai politik tertentu. Sepanjang masih mampu mengemong umatnya, hal itu sah-sah saja.

Memang, kalau ulama mencampuradukkan tugas pokoknya ngemong umat dalam masalah spiritual dengan urusan duniawi seperti politik, biasanya pasti jadi masalah, ujar Asmui.(encep azis muslim)

0 comments:

Post a Comment