Labels

Followers

Translate

Monday, March 29, 2010

Serat Cebolek dan Teks Kajen

Mayoritas umat Islam di Indonesia mungkin kurang mengenal nama Syekh Ahmad Mutamakkin. Namun demikian, di Jawa Tengah khususnya, nama tokoh ini begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Tokoh ini dikenal sebagai seorang "pemberontak" melawan arus kekuasaan. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang kontroversial, ketika itu. Zainul Milal Bizawie dalam bukunya, Perlawanan Kultural Agama Rakyat : Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi, menyebutkan, tokoh ini sebagai seorang "neo-sufi" pada abad ke-17-18 Masehi (1645-1740 M).



Menurut Zainul, Syekh Ahmad Mutamakkin adalah tokoh sufi atau penganut tasawuf yang prosekusi dari yang berkuasa. Sebuah kehidupan kaum sufi yang memiliki pandangan berbeda dengan pandangan umat. Seperti halnya Husain Ibn al-Hallaj yang wafat pada 922. Syekh Ahmad Mutamakkin ini juga dikaitkan dengan cerita lain yang terkenal pada awal perkembangan Islam di Jawa, yaitu Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, Sunan Panggung, dan Amongraga.



Dalam Serat Cebolek disebutkan, Syekh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama kampung, berseteru dengan ulama birokrat (Keraton Solo) yang diwakili oleh Katib Anom Kudus. Dalam serat ini dikisahkan, Syekh Ahmad Mutamakkin mengajarkan ilmu hakikat (tasawuf) kepada khalayak ramai. Namun, ajaran ini dianggap sesat oleh sejumlah ulama lain, termasuk Katib Anom.



Katib Anom lalu melaporkan hal ini pada pihak Kerajaan Kartasura di Solo. Pengadilan pun dilakukan atas diri Kiai Mutamakkin. Menurut Gus Dur, pandangan ulama-ulama itu begitu tampak membebek dengan kekuasaan. Sementara itu, Syekh Ahmad Mutamakkin berani melakukan perlawanan kultural dengan kekuasaan yang dianggap salah.



Dalam pandangan Gus Dur, Syekh Mutamakkin memiliki pendapat yang berbeda dengan ulama dan pihak Keraton dalam mengajarkan Islam pada umat. Sebab, Islam itu bukan hanya fikih, tetapi juga ada ilmu lain, seperti tasawuf. "Beliau tampaknya ingin memperkenalkan kultur baru atau budaya baru dalam mendidik rakyat," jelas Gus Dur pada sebuah diskusi mengenai Kehidupan Syekh Ahmad Mutamakkin, beberapa waktu silam.



Sultan Hamengkubuwono X dalam artikelnya berjudul Misteri Mantra dalam Naskah-naskah Keraton, menyatakan, kisah dalam Serat Cebolek tampaknya memihak para ulama yang mewakili ajaran Islam ortodoks, ketimbang usaha yang dilakukan Syekh Ahmad Mutamakkin.



Peran Syekh Ahmad Mutamakkin yang "melawan kekuasaan" sebagaimana disebutkan dalam Serat Cebolek, justru bertolak belakang dengan Teks Kajen. Dalam teks ini, Syekh Ahmad Mutamakkin digambarkan sebagai seorang pahlawan yang berani menentang kejahilan. Bahkan, dalam teks ini, Syekh Mutamakkin dipandang sebagai pihak yang benar. Menurut Sultan HB X, Syekh Mutamakkin mewakili pola atau "tipikal" ajaran dalam sejarah Islam: pertentangan antara "ilmu lahir" dan "ilmu batin", ilmu hakikat dan ilmu syariat, Islam ortodoks dan Islam heterodoks, "serat resmi" dan "serat rakyat".



Dalam Serat "Sastra Gendhing" (Kesucian Jiwa) karya Sultan Agung, naskah yang lebih tua dari Serat Cebolek, memuat beberapa bait tembang Sinom. Pramila gendhing yen bubrah, gugur sembahe mring Widdhi, Batal wisesaning shalat, tanpa gawe ulah gendhing, Dene ngran tembang gendhing, tuk ireng swara linuhung, Amuji asmane Dhat, swara saking osik wadhi, Osik muiya entaring ciptasurasa.



Sultan Agung menegaskan bahwa kesalahan orang dalam mempelajari agama Islam, kebanyakan terletak pada kecenderungan untuk mudah dimabukkan oleh arus syariat. Diperingatkannya, pedoman yang harus diingat-ingat ialah: "Syariat tanpa hakikat adalah kosong. Sebaliknya, hakikat tanpa syariat menjadi batallah shalat seseorang." Hal ini senada dengan pandangan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. "Hakikat dan syariat itu penting. Belajar syariat tanpa hakikat adalah kosong, tak berguna. Dan, hakikat tanpa syariat, maka batal." Orang yang mengutamakan syariat dan meninggalkan hakikat, bagaikan mengejar kulit, namun melupakan isi.



Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ahmad Syalabi, dalam Mempelajari Raga tanpa Mempelajari Jiwa, mengecam cara-cara ulama Mesir abad ke-20 yang secara dangkal melihat semua segi kehidupan beragama dari segi materiilnya saja. Seperti itulah pola pengajaran yang dilakukan Syekh Ahmad Mutamakkin.



Menurut Hasyim Asyari, ajaran Islam tak hanya dilakukan dengan pendekatan fikih, tafsir, dan lainnya. Islam juga bisa didekati dan dikenali melalui pendekatan hakikat dan tasawuf. Mungkin, karena hal inilah sebagian ulama fikih, seperti Katib Anom, Kudus, merasa khawatir dengan ajaran yang dikembangkan Syekh Ahmad Mutamakkin. Sehingga, dikhawatirkan pemahaman keagamaan seperti ini akan membahayakan akidah umat yang baru belajar tentang keislaman.



Namun demikian, bagi Syekh Ahmad Mutamakkin, pengenalan jati diri dan hakikat ketuhanan, sangat penting dalam membentuk pemahaman umat. Sebab, agama Islam bukan hanya transaksional semata, yakni sekadar pahala dan dosa, atau surga dan neraka. Sebab, surga dan neraka adalah urusan Allah. Karena itu, mengenal Allah akan membentuk diri seorang Muslim makin mencintai Sang Penciptanya. Sebab, orang yang sangat cinta pada Allah, akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Kebahagiaannya jauh melebihi segalanya.



Pemahaman seperti ini pula yang dilakukan oleh Rabiatul Adawiyah, dalam menjalankan ibadah. Simak ungkapan Adawiyah. "Ya Allah, kalau ibadahku semata-mata karena mengharapkan surga-Mu, maka jauhkanlah surga itu dari pandanganku. Kalau ibadahku karena takut akan neraka-Mu, dekatkan neraka itu padaku, biar jiwaku ada di dalamnya. Bagiku, Engkau cukup."Wa Allahu A'lam.



sya/berbagai sumber

2 comments:

  1. Assalam...
    salam kenal...Cewek leh gabung kan...
    Mo ninggalin SERAT MILENIUM nich, boleh ya...

    "AL-IMANU KAMIL KHURUJUKA ANHU...( PAPAR MBAH KIN DALAM KITABNYA YG MASYHUR : " ARSYL MUWAHIDDIN " )
    Sebuah pengejawantahan konsep spiritual tertinggi dengan 3 tingkatan Zuhud :
    1. Zuhud terhadap dunia.
    2. Zuhud terhadap akhirat ( dalam hal ini surga & neraka ).
    3. "Zuhud terhadap Allah".
    Wallahu A'lam bishshowab...Semoga Rahmat Allah beserta seluruh pilar-pilar Kajen
    Kok g ada ceritanya Mbah Din ? ( Mbah Syamsuddien )

    Al-Fakir : Dika

    ReplyDelete