Kamis, 22 Juli 2010

DESA KAJEN KECAMATAN MARGOYOSO KABUPATEN PATI

DESA KAJEN KECAMATAN MARGOYOSO KABUPATEN PATI
KAJEN, adalah nama desa yang ada Jawa Tengah di Kabupaten Pati wilayah utara tepatnya di Kecamatan Margoyoso.



Secara Geografis daerah Kajen dibentuk oleh lereng Gunung Muria yang berbukit-bukit, lembah di kakinya yang subur, serta tepian pantai yang landai dengan perairan laut yang tenang.

Daerahnya terhampar dari ketinggian sekita 300 m dari permukaan laut di daerah lereng pegunungan hingga kebatas permukaan laut di daerah tepi pantai.

Kajen terletak di Kecamatan Margoyoso, kira-kira 18 km dari kota Pati ke arah utara.
Luas Desa Kajen hanya sikitar 63 hektar.

Di Desa ini tidak ada sawah sama sekali walaupun demikian roda Ekonomi di Desa ini berputar sangat kencang, sehingga di Desa kajen terdapat banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, seperti Pondok Pesantren, Gedung Madrasah-madrasah, dan rumah penduduk Desa kajen.

Di Desa ini tersebar Pondok Pesantren, Madrasah, dan fasilitas panunjang bagi Masyarakat Desa Kajen dan Sekitarnya, di Desa Kajen pula terdapat banyak tokoh-tokoh Islam yang berperan dalam penyebaran Agama Islam diwilayah Pati.

unit sekolah di desa akjen

BEBERA PA UNIT PENDIDIKAN YANG BERADA DI DESA KAJEN
ANTARA LAIN :

MATHOLIUL FALAH :
UNIT PENDIDIKAN
  • Ibtidaiyah,
  • Diniyah,
  • MTs,
  • MA &
  • STAI



SALAFIYAH :
UNIT PENDIDIKAN
  • Ibtidaiyah,
  • Diniyah,
  • MTs,
  • MA,
  • SMK >> *TATA BUSANA * TIK
  • PUSPELA



AL HIKMAH :
UNIT PENDIDIKAN
  • Ibtidaiyah,
  • Diniyah,
  • MTs,
  • MA

PGIP HADIWIJAYA KAJEN

UNIT PENDIDIKAN
  • Ibtidaiyah
  • diniyah
  • MTs
  • MA




MQT Kajen
UNIT PENDIDIKAN
  • MA
  • MTs



SMK CORDOVA
JURUSAN
  • multimedia & farmasi



Kelompok bermain (play group)


TAMAN KANAK MASYITHOH



TPQ HAJROH


TPQ AL-ISLAH



TAMAN KANAK ASYIAH



Rabu, 07 Juli 2010

DESA KAJEN KECAMATAN MARGOYOSO KABUPATEN PATI

KAJEN, adalah nama desa yang ada Jawa Tengah di Kabupaten Pati wilayah utara tepatnya di Kecamatan Margoyoso.



Secara Geografis daerah Kajen dibentuk oleh lereng Gunung Muria yang berbukit-bukit, lembah di kakinya yang subur, serta tepian pantai yang landai dengan perairan laut yang tenang.

Daerahnya terhampar dari ketinggian sekita 300 m dari permukaan laut di daerah lereng pegunungan hingga kebatas permukaan laut di daerah tepi pantai.

Kajen terletak di Kecamatan Margoyoso, kira-kira 18 km dari kota Pati ke arah utara.
Luas Desa Kajen hanya sikitar 63 hektar.

Di Desa ini tidak ada sawah sama sekali walaupun demikian roda Ekonomi di Desa ini berputar sangat kencang, sehingga di Desa kajen terdapat banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, seperti Pondok Pesantren, Gedung Madrasah-madrasah, dan rumah penduduk Desa kajen.

Di Desa ini tersebar Pondok Pesantren, Madrasah, dan fasilitas panunjang bagi Masyarakat Desa Kajen dan Sekitarnya, di Desa Kajen pula terdapat banyak tokoh-tokoh Islam yang berperan dalam penyebaran Agama Islam diwilayah Pati.

GENEALOGI PESANTREN-PESANTREN KAJEN

GENEALOGI PESANTREN-PESANTREN KAJEN

Pesantren adalah suatu bentuk pendidikan ke-Islaman klasik-tradisional yang masih memegang teguh dalam mendalami dan memahami ajaran intelektualitas Islam sejak zaman nabi hingga masa kejayaan Imam empat: Syafi’i, Maliki, Hanafi dan hambali. Secara etimologis pesantren terdiri dari kata asal “santri” yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pesantren” yang menunjukkan sebuah tempat, dimana para santri mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam dan kehidupan. Pesantren terdiri dari minimal; pondok/kamar/asrama berbentuk bangunan sederhana, Mushola atau masjid sebagai tempat untuk pengajian atau pengajaran, rumah seorang kiai yang secara total dan penuh selalu memperhatikan perkembangan para santri dalam menuntut ilmu dan tentunya santri serta tradisi kehidupannya yang unik dan khas.

Dalam pesantren ada sebuah sistem yang rigid dan baku, semuanya saling terkait yang mengental menjadi sebuah tradisi yang dimiliki oleh santri dan menjelma dalam karakter pribadinya, sehingga seringkali santri mendapat “stigma” atau julukan yang khas dan menarik, baik itu menyangkut cara hidup, pola pikir dan perilakunya. Berbeda dengan sebuah lembaga yang meng-asramakan peserta didiknya, pesantren tidak hanya menjadi sebuah tempat tidur atau istirahat saja, lebih dari itu dengan sistem dan metodenya dalam pesantren terjadi sebuah proses pendidikan yang khas dan unik di dalam membentuk sebuah karakter peserta didiknya melalui internalisasi keilmuan dalam perilaku sehari-hari yang dikontrol dan diawasi selama 24 jam melalui berbagai aktifitas dan program kegiatan pendidikannya.

Dalam banyak hal pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan sekaligus sosial kemasyarakatan menjadi suatu wilayah yang sangat menarik untuk dikaji terutama peranan dan kemampuannya dalam melakukan proses transformasi pengetahuan, serta menjaga akar historositas pendidikan yang dikembangkannya. Terbukti bahwa sampai saat ini pesantren tetap survive terhadap terpaan badai kapitalisme global dengan segala kompleksitas nilai dan budaya yang turut serta di dalamnya, bahkan pesantren mampu menjadi counter of cultur dan alternatif value ditengah arus pergerakan sosial yang terus berkembang dengan nilai dan budayanya yang khas dan indegeneous.

Pesantren memiliki daya saing dan tawar yang cukup tinggi dalam kancah pertempuran nilai dan budaya di dalam kehidupan masyarakat tersebut. Melalui konsep dan teori yang dimilikinya, al-mukhafadzatu ala al-khodimi al-sholih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-aslah, yaitu dengan mempertahankan setiap niali lama yang masih relevan dan baik serta mengganti dengan sesuatu yang baru yang bermanfaat dan mendatangkan kemaslahatan, pesantren dengan alamiah dan bijak melakukan proses perubahannya sendiri. Konsep ini diambil dan dilaksanakan pesantren dengan metode spiral, berputar dan berproses dengan pelan namun pasti menuju sebuah perubahan yang lebih baik dengan mempertimbangkan segala aspek yang melingkupinya baik yang bernilai duniawiyah maupun ukhrowiyah. Sebagaimana yang pernah ditulis sindhunata dalam bukunya “Dilema Manusia Rasional”, tentang pendapat Horkheimer bahwa ada dua teori yang bersifat emansipatoris yaitu teori tradisional dan kritis. Dalam hal ini pesantren dengan segala aspek dan cirinya yang khas dapat dikategorikan sebagai sebuah lembaga yang mempunyai sifat emansipatoris yaitu masuk dalam teori pertama dengan tradisi yang dimilikinya.

Metode tersebut sengaja diambil untuk menandingi dan menolak konsep yang ditawarkan oleh barat dengan modernisme dan globalisasinya yang cenderung linier, berjalan lurus tanpa banyak mempertimbangkan berbagai faktor yang melingkupinya, sehingga dapat dilihat bahwa proses modernisasi dengan berbagai kelebihannya telah dengan sengaja menyisakan banyak faktor negatif seperti sekulerisme dan budaya hedonisme yang cenderung melupakan Tuhan dan perilaku amoral serta kerancuan sosial.

Pesantren sebagai basis pengkaderan umat Islam tetap memiliki daya tarik tersendiri karena ia masih tetap konsisten dengan tugas dan fungsinya menyadarkan masyarakat secara terus-menerus dalam rangka amal ma’ruf nahi munkar untuk menyelamatkan umat manusia dari kealpaan akan eksistensi dan tujuan hidupnya sehingga akan terhindar dari kesesatan dunia dan siksaan akhirat. Lebih dari itu pesantren terus melakukan pembenahan dan membuka diri untuk mengkaji teks-teks klasik serta juga senantiasa membaca tanda-tanda zaman mutakhir yang semakin menggila dan cenderung menenggelamkan kesadaran kritis masyarakat.

Mengapa pesantren demikian terlihat kuat dan setia pada garis perjuangan dan keyakinannya serta mempertahankan identitas budaya ke-Islamannya, karena pesantren secara utuh dan sadar masih tetap mendalami dan menyerap warisan budaya klasik yang pernah membentuk peradaban dunia yang sangat canggih. Di bidang perkembangan pemikiran dan intelektual misalnya, Ibnu Sina dengan ilmu kedokterannya yang masyur dan telah dikonsumsi oleh barat merupakan cermin bahwa Islam sebenarnya menjadi entitas dan sumber pengetahuan serta budaya yang tidak akan pernah kering, banyak sekali bukti bahwa kemajuan barat saat ini tidak terlepas dari sumbangan pemikiran dan ide besar para pemikir Islam saat itu.

Sosialisme telah hancur sementara saat ini kapitalisme dengan teori besarnya tentang liberalisme dan globalisasi dicaci dan dimaki karena memang banyak melahirkan persoalan baru di berbagai lini kehidupan, mulai dari sosial-politik, ekonomi dan yang paling parah persoalan moral-etis. Masyarakat dunia saat ini seakan gamang dan tidak mampu mengendalikan kehidupannya sendiri, sehingga nalar kehidupan yang mestinya dapat dikontrol dan diselaraskan dengan kepentingan dan kebutuhan manusia demi kemaslahatan dan kebahagiaan seakan sirna seiring gencarnya arus kapitalisme yang semakin menggila. Keamanan dan perdamaian dunia terus terancam dengan manuver dan kinerja yang dilakukan para agen kapitalis, negara dunia ketiga semakin terpuruk dan sulit untuk bangkit, baik itu disebabkan oleh kelemahannya sendiri maupun sengaja dibuat lemah agar mudah dikendalikan dan diarahkan demi kepentingan mereka.

Pesantren dengan segenap tradisinya yang mendasarkan pada nilai-nilai yang digagas oleh Islam memiliki kemampuan “survival” dan itu telah terbukti hingga saat ini, pesantren dalam sejarah keberadaannya dalam proses ada dan meng”ada”nya selalu menempatkan kesadaran ktitis dan emansipatoris didalam melaksanakan tujuan hidup dan kehidupan disekitar dirinya. Kalau dilihat dari kacamata nasional, pesantren adalah salah satu aset bangsa Indonesia yang indegeneous dan bersifat lokal yang kalau dilihat dalam waktu kedepan dengan berbagai aset dan ciri yang selama ini dimilikinya mempunyai potensi yang cukup besar untuk ikut serta didalam proses “kebangkitan” bangsa yang saat ini sedang terpuruk.

Secara ekonomi pesantren merupakan lembaga yang mandiri dan mampu mebiayai dirinya sendiri tanpa menggantungkan proses pembangunan yang selama ini berlangsung, bahkan dalam kasus dan tahap tertentu pesantren mampu ikut serta berkiprah didalam pembangunan masyarakat melalui berbagai program dan konsen yang dimilikinya. Dalam bidang politik dan sosial, tidak mungkin bisa dipungkiri oleh semua pihak bahwa pesantren ikut serta dalam proses berdirinya bangsa ini, bahkan dalam setiap fase yang dilalui oleh bangsa ini pesantren selalu ikut andil dalam perjuangannya, baik secara fisik maupun pemikiran.

Dengan demikian dapat difahami bahwa pesantren sebenarnya memilki konsen terhadap keberlangsungan keilmuan dengan memperhatikan dan memahami masa lalu untuk kehidupan masa kini dan mendatang dengan semangat perennialisnya sebagai agama yang rahmatan lil al-alamin, yang diamalkan secara utuh, universal dan inklusif. Kematangan sebuah peradaban juga pengetahuan terlihat pada seberapa jauh kesadarannya akan akar-akar warisan klasik yang ia miliki. Makin dalam kesadaran akan hal itu maka semakin dalam pula ketangguhan dan kematangannya.

Intelektualitas dan nalar pesantren terbentuk dengan berbagai nilai budaya dan ciri khasnya, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak dengan sendirinya dan serta merta terbentuk begitu saja. Ia memiliki jaringan intelektual atau sanad serta silsilah yang sangat panjang mulai kepada orang nomor satu dalam dunia Islam di Nusantara ( walisongo ) bahkan hingga kepada Muhammad sang Nabi akhirul al-zaman. Hal itu tentu erat kaitannya dengan penyebaran Islam pertama di jawa sekaligus penjagaan pelestariannya sebagaimana pernah disampaikan oleh Zamakhsyari Dhofier bahwa pesantren secara alamiah telah melakukan berbagai usaha untuk melestarikan keberlangsungan hidupnya dengan melakukan berbagai upaya diantaranya, mengembangkan suatu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga kiai dan mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intelektual antara sesama kiai dan keluarganya.

Demikian juga keberlangsungan dan perkembangan pesantren yang ada di desa kajen tidak terlepas dari usaha tersebut, hal ini dilakukan dalam rangka pelestarian dan strategi penjagaan terhadap masa depan dan eksistensi pesantren itu sendiri, terbukti dengan perkembangan pesantren yang terjadi di desa Kajen masih berputar pada garis kekerabatan dari satu sanad keturunan. Mbah Mutamakkin sebagai penyebar Islam di wilayah ini sekaligus perintis berdirinya berbagai pesantren yang ada sejak awal telah melakukan kerja-kerja tersebut.

Jalinan dan jaringan kekeluargaan yang dibanguan pesantren melalui perkawinan merupakan usaha sadar dan sitematis untuk meneruskan garis perjuangan dalam Islam, seperti yang dulu pernah dilakukan oleh para bangsawan kerajaan guna melanggengkan keturunan dan kekuasaannya, bedanya kalau usaha yang dilakukan pesantren saat ini dalam rangka menjaga kelestarian dan keberlangsungan pesantren dalam wilayah tradisi dan warisan intelektual-keilmuan sementara para bangsawan dulu dalam kerangka politis dan mempertahankan jaring kekuasaannya. Dalam proses evolusi usaha yang dilakukan oleh keduanya merupakan sebuah langkah yang rasional dan bisa dinggap wajar, karena bagaimanapun juga salah satu tujuan dari hidup ini adalah bertahan untuk tetap eksis, apalagi jika semua itu berdiri diatas niatan suci memperjuangkan nilai-nilai agama yang diyakini kebenarannya.

Menyoal sejarah perkembangan pesantren kajen tidak mungkin melepaskan dari sejarah kehidupan Mbah Mutamakkin, sebagai penyeru dan penganjur Islam pertama di wilayah tersebut. Pada mulanya melalui perjuangan dan gerakan sosial yang beliau lakukan akhirnya mulai dilakukanlah kerja-kerja intelektual, sebagaimana yang dulu juga pernah dilakukan oleh nabi besar Muhammad S.A.W ketika pertama kali meperkenalkan ajaran Islam sebagai nilai baru di masyarakat, begitupun Mbah Mutamakkin dengan mengajar orang-orang terdekatnya, diantara murid beliau yang terkenal dan mampu memberikan pencerahan dan ikut serta melakukan perubahan sosial di daerahnya kebanyakan masih kerabat dekat beliau yaitu: R. Ronggo Kusumo keponakan beliau dari K. Ageng Mruwut, di daerah Ngemplak desa sebelah barat daya desa Kajen R. Ronggo Kusumo dianggap sebagai seorang wali dan pahlawan bagi masyarakatnya, beliau dikenal sebagai bangsawan dan ulama’ yang mencintai dan memperjuangkan nasib rakyat kecil, dalam setiap dakwah yang dilakukan dalam rangka penyebaran Islam saat itu beliau selalu menggunakan pendekatan dan strategi peningkatan ekonomi kerakyatan sehingga masyarakat sangat respek terhadap ajaran yang beliau sampaikan. Konon pada saat itu beliau secara dor to dor mengetuk hati para agniya’ ( orang kaya ) untuk mengeluarkan sebagaian hartanya guna diberikan kepada yang berhak, para fakir miskin. Dengan type perjuangan yang beliau lakukan lambat laun banyak diantara para agniya’ tersebut yang dengan sadar dan sukarela mendermakan sebagian harta miliknya. Sekarang dapat disaksikan secara ekonomi masyarakat ngemplak tergolong lebih dari cukup dengan pabrik tapiokanya.

Murid Mbah Mutamakkin yang juga menjadi pioner dan perintis Islam didaerahnya adalah K. Mizan, beliau adalah keponakan Mbah Mutamakkin dari saudaranya yang bernama K.H. Abdullah yang berdomisili di Ngampel-Blora, nama Mizan diambil dari istilah timbangan karena beliau termasuk salah satu murid yang cerdas dan mampu memberikan imbangan kepada mbah Mutamakkin, hingga pada suatu ketika beliau diuji untuk mengambil air menggunakan keranjang, namun ajaibnya tak setetespun air yang tumpah melalui lubang anyamannya, akhirnya karena dipandang sudah mampu dan saatnya untuk ditugaskan maka K. Mizan diperintahkan untuk merintis perjuangan didaerah sebelah utara desa kajen yang sekarang terkenal dengan sebutan margotuhu ( karena ketaatan ) yang diambil dari peristiwa tersebut karena beliau sangat ta’dzim dan tanpa banyak protes melaksanakan perintah mbah Mutamakkin.

Pada masa ini bentuk pesantren belum terlihat jelas dan sistematis seperti sekarang ini, pengajian dan pengajaran Islam masih dilakukan di masjid dengan sangat sederhana, baru pada sekitar abad XIX, generasi ketiga Mbah mutamakkin yaitu seorang murid terpandainya yang diambil menantu beliau bernama K. Ismail mendirikan pesantren yang diyakini sebagai pesantren pertama di Kajen tepatnya di daerah selatan Masjid Kajen yang pada saat itu lebih dikenal dengan nama pondok pesantren tengah ( sekarang bernama Pesantren Raudlatul ‘Ulum ). pemberian nama saat itu diukur dari keberadaannya karena memang berada ditengah-tengah desa kajen, dan untuk selanjutnya makam kanjengan ( Mbah Mutamakkin ) dijadikan barometer dengan melihat tembok ( banon ) makam kanjengan.

Setelah itu di kajen mulai bermunculan berbagai pesantren dengan melakukan perbaikan dan penyempurnaan, seperti yang dilakukan oleh salah satu cucu Mbah Mutamakkin yang bernama K.H. Nawawi putra K.H Abdullah dengan memprakarsai berdirinya pondok kulon banon ( berada di arah barat tembok makam kanjengan) yang sekarang telah berkembang pesat dengan nama TPII ( taman pendidikan Islam Indonesia ). Setelah itu sekitar dua taun berselang di daerah wetan banon berdiri sebuah pesantren yang diprakarsai oleh KH. Siroj putra K.H Ishaq yang kemudian hari terkenal dengan sebutan salafiyah.

Pendirian pesantren oleh keturunan Mbah Mutamakkin baru disusul sekitar tahun 1910 di daerah kajen paling barat bersebrangan dengan desa Ngemplak yang bernama pol garut berdirilah pesantren yang diberinama sesuai dengan daerahnya yaitu polgarut, yang dipimpin oleh K.H. Abdussalam dan putranya K.H Mahfudh yang pada perkembangannya menjadi dua pesantren dengan berdirinya pesantren yang dikelola oleh K.H. Mahfud dengan nama Maslakul Huda dan pesantren yang lama bernama Matholi’ul Huda yang kemudian diasuh oleh Mbah Abdullah Zein Kakak K.H. Mahfudh. Maslakul Huda berdiri setelah K.H. Maffudh pulang dari pengembaraan intelektualnya dan dilanjutkan oleh adiknya K.H. Aly Mukhtar yang selanjutnya dikembangkan oleh K. HMA. Sahal Mahfudh hingga sekarang.

Keempat pondok diatas dalam perkembangan dan sejarah pesantren yang saat ini ada di Kajen menjadi barometer dan titik-titik pusat intelektual dan merupakan tipologi yang khas dari ciri pesantren yang ada. lazimnya sebuah pesantren yang memiliki daya juang dan kembangnya yang sangat independent, keempatnya melakukan proses yang sangat mandiri dan tidak mau terpengaruh oleh berbagai model dan cara yang dilakukan oleh yang lainnya, mereka memilki karakter dan kalau diamati kayaknya memilki pembagian tugas yang rigid dan jelas, penulis tidak tau secara pasti apakah mereka dalam pelaksanaan ide dan gagasan tersebut telah melakukan koordinasi dan konsolidasi sebelumnya atau tidak, namun yang jelas keempatnya memilki karakter yang kuat dan khas. Mereka berkembang dan berproses tanpa menafikan yang lain. Secara global pesantren yang ada di kajen bisa digambarkan sebagai sebuah universitas intelektual yang terdiri dari berbagai fakultas berupa pesantren-pesantren yang memilki karakter dan metode yang berbeda-beda.

Proses diatas merupakan sebuah konsekunsi yang wajar dari akibat nalar yang dimiliki oleh pesantren, yaitu kemandirian dan figur orientasinya yang kuat dalam pengelolaan mengakibatkan kesan bahwa mereka berkembang dengan sendiri-sendiri. Tampak luar seakan proses perkembangan pesantren yang terjadi di kajen terkesan tidak harmoni dan nafsi-nafsi. Namun diluar itu sebenarnya telah terjadi persaingan yang positif, dimana masing-masing pesantren yang ada selalu melakukan inovasi dan pembaruan sesuai dengan misi dan visi yang mereka miliki.

Pesantren wetan banon ( salafiyah ) dengan berbagai ekselerasi dan inovasinya telah melakukan banyak perubahan dan perkembangan yang berarti baik secara manajerial maupun kurikulumnya. Salafiyah sebagai sebuah pesantren sadar betul bahwa santri tidak saja dituntut mampu menguasai dan memahami ilmu agama namun lebih dari itu mereka harus menguasai bidang sain dan tehnologi, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah konkret dalam proses metamosphosis yang mereka alami. Akhirnya dengan sadar dan terencana pesantren ini mendirikan madrasah yang terus mengalami perkembangan di berbagai bidang mulai dari kegiatan dan kurikulumnya yang semmuanya berbasis pada pengingkatan kemampuan dan kreatifitas santri. Perkembangan madarasah yang didirikan oleh pesantren mencapai puncaknya dengan diterimanya “ surat pengsahan perguruan agama Islam dari pemerintah pada tahun 1975 NO : K/127/III/75. Pada waktu itu di desa kajen salafiyah menjadi satu-satunya pesantren yang memilki madarasah yang diakui oleh pemerintah dan mengikuti ujian negara tahun 1980-an.

Meskipun diyakini sebagai pondok pertama di kajen pesantren tengah yang didirikan oleh K.H. Ismail yang kemudian diteruskan oleh K.H. Murtaji tidak mengalami perkembangan yang penting baru setelah berdiri dibekas pesantren yang lama yaitu pesantren Raudlatul ‘ulum yang diasuh K.H. Fayumi Munji pesantren tengah mulai mengalami sedikit perubahan yang sekarang diasuh oleh K. Ismail putra beliau. Pesantren tengah dalam pegembangan dan pengelolaannya tidak cukup mengalami perubahan yang signifikan dan substansial, pesantren tengah masih berpegang teguh sebagai lembaga tradisional yang mempertahankan berbagai tradisi yang dianut dan diyakininya dengan melakukan berbagai penyesuaian yang dilakukan dalam rangka efisiensi dan efektifitas.

Di wilayah ini ( pesantren tengah ) dalam perkembangannya berdiri berbagai pesantren disekitar masjid Kajen diantaranya: Pesantren Kauman yang didirikan tahun 1926 oleh K.H. Hasbullah, pada awalnya lembaga ini dipakai sebagai untuk pengajian al-Qur’an dan kitab-kitab salaf karena mengalami peerkembangan maka berdirilah pesantren yang selanjutnya diasuh oleh putranya yang bernama K. Munif hasbullah dan sekarang dipegang oleh K.H. Umar Hasyim adik iparnya, pesantren ini diberi nama kauman karena berada di komplek masjid yang identik dengan kaum beriman ( Kauman), yaitu sebelah barat Masjid kajen. Ke arah utara bersebelahan dengan pesantren kauman dapat ditemui pesantren Kauman kretek yang sekarang bernama APIK, pesantren ini didirikan sekitar tahun 1953 dibawah asuhan K.H Muhammadun ( menantu K.H. Nawawi ) dan sekarang diasuh oleh K. Zahwan dan K.H Junaedi putra beliau. Terus kearah utara berdiri pesantren Buludana yang dirintis oleh K.H. Muhtar al-Hafidh yang dalam perkembangannya dikelola oleh kedua putra beliau ( K. Abdul Bari Mukhtar dan K. M. makmun Mukhtar, pada masa awal kepemimpinan mereka pesantren ini bernama APELBUK ( Asrama Pelajar Buludana Kajen ) dan sekarang berganti nama menjadi pondok pesantren Mabda’ul Huda ( PPMH )

Seperti yang disinggung diatas pada masa awal dan perkembangannya di wilayah tengah pesantren tidak mengalami perubahan yang cukup berarti, baru pada tahun 1983 di wilayah ini terjadi perubahan yang pesat setelah berdirinya pesantren al-hikmah yang dirintis oleh K.H. Ma’mun Muzaiyyin ( menantu Mbah Dullah ) yang dalam waktu singkat sekitar satu dasawarsa mampu melakukan berbagai manuver dan akselerasi pertumbuhan yang menggembirakan dengan berbagai aktifitas dan kreatifitasnya, selain pesantren al-hikmah juga mendirikan madrasah yang dalam pengelolaannya dapat disamakan dengan yang dilakukan oleh pesantren wetan banon ( salafiyah ), juga melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikannya, nampaknya dengan bijak pesantren ini belajar dari dinamika proses pendidikan nasional yang sedang berlangsung.

Pesantren kulon banon berada sekitar 200 meter arah timur makam mbah Mutamakkin dan didirikan oleh keturunan beliau generasi ke-enam yang bernama K.H. Nawawi putera K.H Abdullah. Dalam pengelolaannya K.H. nawawi dibantu oleh ketiga putra beliau yaitu K.H. Thohir, K.H. M. Fahrurrozi dan K.H. Ahmad Durri nawawi, pondok kulon banon ini berdiri tahun 1900, dilihat dari tahunnya pesantren ini merupakan pesantren kedua setelah pesantren tengah pertama berdiri. Setelah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan pesantren ini lebih populer dengan nama pesantren TPII ( taman pendidikan Islam Indonesia ) yang diasuh oleh K.H. Muzammil Thohir ( putra K.H. Thohir Nawawi ) dan pada tahap selanjutnya berdirilah pesantren putri yang diasuh oleh adiknya yang bernama K.H. Muadz Thohir.

Sementara itu di desa Kajen bagian paling barat tepatnya di daerah polgarut pada tahun 1910 K.H. Abdussalam dan putranya K.H. Mahfudh mendirikan pesantren yang pada saat itu diberi nama pesantren matholi’ul Huda ( PMH ) dan dalam perkembangannya karena putranya telah selesai dalam melakukan pengembaraan intelektual diberilah sebuah tanah disebelah utaranya untuk mendirikan pesantren baru. Pesantren ini mengalami tiga masa kepengasuhan yang pertama periode perintisan dipegang oleh K.H. Mahfudh, dan periode peralihan karena putra beliau yang bernama K.H Sahal mahfudh masih menempuh pendidikan diberbagai pesantren di jawa dan arab, pada waktu ini pengasuh dipegang oleh adik K.H. Mahfudh yaitu K.H. Aly Mukhtar baru setelah K.H. Sahal Mahfudh merampungkan studinya pesantren ini dikelolan dan dikembangkan oleh beliau yang diberinama pesantren PMH Putra singkatan dari Maslakul Huda ( polgarut utara ) untuk membedakan dengan PMH pusat ( polgarut selatan ).

Dalam perkembangannya kedua pesantren ini mengalami kemajuan yang sangat pesat dan signifikan, selain dilanjutkan dengan berdirinya pesantren putri di masing-masing pesantren ini ( al-Husna – pesantren putri PMH Pusat ) dan al-badi’iyah- pesantren putri PMH Putra ), keduanya mengalami berbagai perubahan dan perkembangan baik dari segi methode pendidikan dan sistem pengelolaan. PMH Pusat sangat terkenal dan identik dengan pesantren yang memfokuskan pada pengfhafalan al-qur’an dan pengkajian kitab-kitab klasik sementara PMH Putra selain terkenal dengan pesantren salaf yang menekankan pada pengkayaan dan pengkajian fiqih juga lebih dikenal dengan sistem pengelolaannya yang moderat dan partisipatif.

Keberadaan kedua pesantren ini dalam sejarahnya tidak mungkin untuk dilepaskan dari berdirinya Madrasah Matholi’ul falah yang berdiri terpaut dua tahun dari berdirinya pesantren ini. Kalau pesantren wetan banon ( salafiyah ) dan tengah ( al-hikmah) dalam pengembangannya mendirikan madrasah namun PMH putra dan pusat dengan sengaja tidak melakukan langkah-langkah tersebut. Penulis belum mengetahui alasan dari pengambilan kebijakan tersebut, namun meskipun secara pengelolaan dan struktur antara PMH putra-pusat tidak terkait dengan Matholi’ul falah, kesinambungan diantara ketiganya nampak terlihat dalam penyesuaian kurikulum yang diberlakukan di pesantren tersebut, dimana setiap kegiatan yang akan diadakan oleh pesantren disesuaikan dengan berbagai kegiatan yang diprogramkan di madrasah matholi’ul Falah, bahkan kalau diteliti lebih jauh dalam hal kurikulum dapat ditemukan kesinambungan dan korelasi positif antara pesantren dan madrasah itu, apalagi sebenarnya ketiganya masih berada dalam satu payung yayasan nurul al-salam. Dan kurang lengkap dan komprehenshif kiranya jika mau memahami pesantren PMH putra dan PMH pusat tanpa mengaitkannya dengan keberadaan madrasah Matholi’ul Falah.

Kalau diteliti lebih seksama sebenarnya pembagian typologi dan klasifikasi pesantren wetan banon, tengah dan kulon banon kurang bisa dipertanggungjawabkan dalam sejarah perkembangannya, kalau pemberian istilah pesantren tengah yang diambil karena berada ditengah-tengah wetan banon dan kulon banon [8], secara geografis-historis sulit diterima, karena kalau kita lihat sejarah berdirinya pesantren tengah adalah pesantren pertama di kajen dan keberadaannya sebelum keduanya ( wetan dan kulon banon ). Istilah banon digunakan untuk dinding makam kanjengan yang dikelilingi oleh tembok besar ( banon ) sebagai penunjuk arah keberadaan pesantren awal yang berdiri hampir bersamaan di kajen.[9]

Dalam hal ini ada kerancuan dalam penggunaan istilah wetan banon, tengah dan kulon banon. Kalau yang digunakan penamaan itu mengacu pada keberadaan dinding makam kanjengan sebenarnya pesantren tengah berada di sebelah wetan banon dan kalau yang digunakan pemberian nama pesantren tengah adalah keberadaannya diantara pesantren wetan banon dan kulon banon juga sulit diterima karena pesantren tengah merupakan pesantren pertama di kajen, bagaimana mungkin memberi istilah tengah ketika pesantren wetan dan kulon banon belum berdiri. Akhirnya penulis mencoba menyimpulkan bahwa pemberian istilah pesantren tengah diambil setelah berdirinya pesantren wetan dan kulon banon, sementara istilah pesantren wetan dan kulon banon ditinjau dari keberadaannya dari dinding makam kanjengan.

Memahami pesantren kajen mesti memahami sejarahnya terlebih dahulu, keberadaan pesantren wetan banon, tengah dan kulon banon tidak dengan sendirinya terbentuk begitu saja. Ketiga pesantren tersebut berdiri hampir bersamaan dan dapat dikatakan sebagai embrio lahirnya berbagai pesantren yang saat ini ada di desa Kajen. Dalam perkembangannya, pesantren kajen bertolak dari ketiga titik pesantren tersebut yang berdiri hampir tepat terbagi kedalam wilayah itu, wetan banon, tengah dan kulon banon. Ketiga pesantren itu merupakan pemicu kebangkitan pesantren yang muncul belakangan di sekitarnya yang jika ditelusuri tidak terlepas dari ikatan keluarga dengan ketiga bani tersebut.

Sebagian besar masyarakat meyakini hingga sekarang tiga serangkai ulama tersebut melalui keturunannya menjadi panutan dan pengaruh besar serta penentu corak dan karakter pesantren yang ada di desa Kajen, secara sosio-religius dalam keyakinan masyarakat menempati posisi tertinggi. ketiga bani tersebut adalah keturunan Mbah Mutamakkin generasi ke-lima yaitu bani Siroj ( pesantren wetan banon-salafiyah ), bani nawawi ( pesantren kulon banon-TPII ) dan bani salam ( pesantren polgarut- PMH putra dan pusat ).

Pengaruh dan penentu corak serta karakter pesantren desa kajen yang diberikan ketiga bani tersebut tidak hanya disebabkan karena faktor garis keturunan dan sejarah saja namun juga dapat diduga kuat karena ketiga bani tersebut memilki pilihan dan cara yang khas dalam metode dan penggunaan sistem pendidikan serta pengelolaan pesantren yang mereka dirikan. Pesantren wetan banon misalnya dengan latar belakang sejarahnya memiliki nalar dan cara pandang yang khusus yaitu ingin mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang dinamis dan akseleratif, salafiyah memandang bahwa seorang santri tidak hanya dituntut mampu untuk memahami ilmu agama an-sich namun juga sepatutnya menguasai ilmu-ilmu umum seperti, sain dan tehnologi untuk itu berbagai upaya pengembangan mesti dilakukan demi terwujudnya cita-cita tersebut.

Sehingga pihak lain termasuk pemerintah adalah mitra di dalam proses pengembangan yang mereka lakukan dengan melakukan berbagai kerjasama, hal ini terbukti bahwa sejak awal salafiyah telah melakukan kerja-kerja tersebut yaitu dengan diakuinya oleh pemerintah pada tahun 1948 dan mendapat bantuan sarana penunjang pada tahun 1950 berupa tenaga pengajar dan alat-alat sekolah. Semua ini dilakukan dalam rangka pengembangan yang mengacu pada cita-cita diatas. Dalam proses sejarahnya sampai pada puncak kulminasi dalam sistem pendidikannya salafiyah sebagai sebuah lembaga mulai mengikuti persamaan ujian pada tahun 1980-an, mulai saat itu pesantren salafiyah dengan berbagai kegiatan dan aktifitas kependidikanya telah menyatu dengan sistem pendidikan pemerintah dengan mengikuti ujian negara, mulai saat itu pesantren salafiyah mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan meraih berbagai prestasi di tingkat karisidenan Pati dan wilayah Jateng.[10]

Sementara itu pesantren kulon banon dan polgarut memiliki cara pandang dan nalar sendiri yang berbeda dalam mengelola sistem pendidikannya, kedua pesantren ini sejak dari awal sadar dan faham betul bahwa sebuah lembaga pendidikan akan memiliki karakter dan nalar yang kuat dan mampu melakukakn kerja-kerja kritis emansipatoris ketika dapat menempatkan diri dalam jarak yang sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah saat itu, independensi adalah jalan sadar yang dipilih dengan mendirikan sebuah madrasah pada tahun 1912 ditengah gejolak bangkitnya kesadaran kolektif bangsa indonesia dengan “nasionalisme”nya. Berbagai organisasi muncul dan berkembang saat itu seperti Muhammadiyah, Sarekat Islam dan berbagai ormas lainnya. Lahirnya madrasah ini berngkat dari keprihatinan dua orang kakak adik yaitu KH. Abdus Salam dan KH. Nawawi yang pada saat itu didukung oleh Mbah Sa’id seorang desersi kepolisian negara Singapura yang dalam pelariannya terdampar di desa Kajen. Keprihatinan itu disebabkan karena mereka memandang pengajaran pesantren yang ada pada saat itu kurang sistematis dan efektif, akhirnya mereka sepakar untuk membuka pengajaran pesantren dengan sistem klasikal.

Dalam proses perkembangannya keterkaitan pesantren kulon banon dan polgarut dengan keberadaan Madrasah ini yang akhirnya pada tahun 1922 oleh KH. Mahfudh Salam ( putra KH. Abdus Salam, salah satu pendiri Madrasah) diberi nama “Perguruan Islam Mathali’ul Falah” (PIM) tidak bisa dipisahkan begitu saja, mulai sistem yang saling terkait dan berkesinambungan sampai pada wilayah nalar dan gagasan besar yang selalu beriring dan sejalan, bahkan kalau dilihat dengan seksama dan teliti berbagai program dan aktifitas yang ada di pesantren ( Kulon Banon dan Polgarut ) sepenuhnya menunjang kegiatan yang dilakukan di PIM. Hal ini mulai kentara terlihat semenjak kepemimpinan PIM di pegang dan dikelola oleh KH.MA. Sahal Mahfudh ( putra KH. Mahfudh Salam ).

Pesantren Kulon banon dan Polgarut dalam setiap kegiatannya selalu mengorintasikan pada terbentuknya seorang insan yang sholih dan akrom, tujuan ini hanya dapat terwujud ketika santri sebagai seorang insan memiliki kemampuan sekaligus kemandirian dalam dirinya. Bagaimanapun juga dalam proses pembentukan itu dibutuhkan sebuah konsep dan metode yang sarat dengan nilai-nilai keislaman baik diwilayah, intelektualitas, emosionalitas dan spiritualitas. Seorang insan yang sholih dan akrom sudah barang tentu didalam dirinya terinternalisasi ketiga nilai-nilai tersebut.

Untuk itu dalam mewujudkan sistem dan metode pendidikan yang indegeneous dan khas yang saat ini dimiliki oleh PIM dibutuhkan sebuah kemandirian dan independenasi pengelolaannya dari campur tangan pihak manapun termasuk pemerintah, karena hanya dengan kemandirian dan independensi tersebut PIM mampu melkasanakan setiap gagasan dan konsep yang akan di realisasikan kedalam setiap program pendidikannya. Tujuan ini seiring dengan gagasan yang pernah dilontarkan oleh seorang pakat pendidikan kritis “gramsci” yang berpendapat bahwa, “ proses pendidikan seringkali digunakan untuk melanggengkan struktur kekuasaan dengan mempertahankan ideologi dan hegemoni negara” dan hal inilah yang saat ini telah dan terus dilakukan PIM sebagai sebuah lembaga pendidikan dengan berbagai program dan aktifitasnya untuk membentuk insan yang sholih dan akrom yang memiliki daya kritis dan emansipatoris yang berdiri kokoh diatas kemnerdekaan dan independensinya dalam berfikir dan bergerak.

Proses sejarah keberadaan PIM menunjukkan bahwa, kemandirian dan independensi telah menjadi nalar dan akar pemikiran dalam setiap gerak dan aktifitasnya, PIM adalah perguruan yang sadar betula akan pentingnya kemerdekaan dalam berfikir dan bersikap dan hal ini terlihat dalam berbagai pilhan yang diambil, seperti menolak ujian negara dan pemberian status oleh pemerintah, karena PIM meyakini ketika sebuah lembaga pendidikan telah menjadi bagian dari sitem pendidikan pemerintah yang sampai saat ini belum jelas arahnya mau dibawa kemana, maka sejak saat it juga lembaga tersebut tidak indepnden dan setiap aktifitasnya akan mengikuti dan harus rela melakukan perubahan yang dikehendaki oleh pemerintah, baik mulai dari sitem dan metode pengajarannya sampai pada wilayah kurikulumnya, dan hal ini sangat tidak diharapkan oleh PIM yang memilki sekian kurikulum yang khas dan independen.

Sistem organisasi kesiswaan yang dimiliki oleh PIM merupakan wahana yang sangat dinamis dan mendekati pada sistem ketatanegaraan yang saat ini ada, yaitu dengan model “presidensil” dengan keterwakilan siswa dalam setiap kelas melalui keberadaan MPS ( Majelis permusyawaratan Siswa ) yang setiap tahunnya memilih mandataris ( Presiden) untuk melaksanakan setiap kegiatan kesiswaan. Mekanisme yang dibangun sepenuhnya dalm koridor demokrasi dengan asaa dari siswa oleh siswa dan untuk siswa. Keikutsertaan siswa dalm setipa proses mekanisme organisasi sangat ketat dan sepenuhnya mereka yang melakukan setiap tahapan yang mesti dilalui tanpa campur tangan pihak Ustad ( guru ) bahkan lembaga PIM, mekanisme yang berlangsung telah berjalan dengan tertib dan sesuai dengan prosedur yang ada, pihak lembaga hanya menyediakan setiap kebutuhan yang menjadi “hak” siswa dengan mengucurkan dana yang telah dibayarkan oleh mereka setiap bulannya, dalam prosentase dana yang diputar oleh organisasi kesiswaan di PIM sangat besar, untuk saat ini hampir mencapai puluhan juta setiap periodenya.

Sejauh yang diketahui penulis, mungkin PIM satu-satunya lembaga pendidikan yang memilki 4 organisasi kesiswaan sekaligus dalam satu atap. Keempat organisasi itu adalah HSM ( Himpunan siswa Mathali’ul Falah), wadah organisasi yang dimilki oleh siswa putra dalam kegiatan umum, HISMAWATI ( Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putri ) yanhg dimilki oleh siswa putri dalam kegiatan umum dan masing-masing siswa putra dan putri masih punya wadah dalam kegiatan yang berbau ke-araban yang dinamakan Qismun Nasyath, yaitu wadah kegiatan siswa yang bergerak di wilayah pengembangan dan kegiatan bahasa arab.

Dalam mekanismenya organisasi kesiswaan yang ada di PIM diberikan keluasan dan kebebsan gerak selama tidak melanggar aturan yang ada dengan menerapkan konsep taman siswa “Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani” sehingga organisasi kesiswaan dalam kiprahnya mampu melakukan berbagai aktifitas yang melahirkan prestasi. Diantara aktifitas yang dilakukan adalah, diskusi dan seminar ilmiah, pengajian umum, penerbitan bulletin, Marching band, kegiatan sosial-kemasyarakatan, pelatihan dan kursus, daurah bahasa arab, olah-raga, taman gizi, bursa buku. Dll.

Salah satu lagi tradisi yang sampai saat ini masih dipertahankan dan nampaknya akan tetap menjadi kurikulum adalah sistem hafalan bagi siswa untuk setiap kelas sebagai syarat kenaikan, juga pada setiap kelas terkhir masih dibebani dengan test kitab yang diujikan kepada pihak luar PIM dengan mendatangkan ustad dari berbagai perguruan dan madrasah lain. Dan khusus bagi kelas III aliyah yang akan merampungkan studi di perguruan ini di wajibkan membuat paper semacam “skripsi” ringan dalam bahasa arab yang dimunaqosyahkan menjelang kelulusan.

Dalam kebijakannya PIM juga mewajibkan setiap siswanya untuk menempuh pendidikan di pesantren dalam radius tertentu, hal ini diambil untuk menjaga ketertiban dan keberlangsungan proses belajar mengajar yang diterabkan, karena selain disinga hari seringkali kegiatan PIM juga dilaksanakan di malam hari, dengan demikian siswa akan konsen dan bisa fokus didalam mengikuti setiap program yang diterapkan. Kalender pendidikan di PIM dimulai pada bulan Syawal dalam kalender Islam dan memakai sistem evaluasi setiap empat bulan ( kuartal ) dalam memantau kegiatan belajar mengajarnya.

Sampai saat ini PIM dengan berbagai ciri khas dan problematikanya masih kuat berdiri kokoh diatas kakinya sendiri, berdikari dan mandiri serta independen dalam setiap kegiatan yang dilaksanakannya, hal inilah yang menjadi ciri khas dan sejkaligus kelebihan yang memang sengaja diambil PIM sebagai sebuah langkah nayata untuk mewujudkan cita-citanya dalam membentuk manusia yang sholih dan akrom.

Kalau dilihat dua aliran besar itulah ( Salafiyah dan PIM ) yang saat ini masih kuat mewarnai setiap corak pemikiran yang berkembang di pesantren yang ada di desa kajen. Karakter dan nalar yang berbeda yang sengaja diambil oleh keduanya sekaligus menjadi ciri khas dan kelebihan tersendiri di dalam proses pembentukan santri yang pada gilirannya dituntut untuk mengimplementasikan setiap pengetahuan dan ilmunya di dalam kehidupan nyata masyarakat. Perbedaan keduanya merupakan potensi yang tidak perlu dinegasikan satu sama lain, karena pada dasarnya kebenaran dan arah menuju sebuah kemajuan dan kemaslahatan adalah sebuah “proses” yang panjang dan memerlukan berbagai ide dan gagasan. Potensi keduanya adalah aset besar yang saat ini dimiliki Kajen sebagai sebuah “kampung santri” yang penuh dengan berbagai aktifitas keilmuan dan dinamika pendidikan. Bahkan pada tahapan tertentu nantinya tidak hanya keduanya namun fakultas-fakultas ( pesantren ) keilmuan yang memiliki corak dan nuansa yang berbeda-beda yang ada di Kajen perlu disinergikan menjadi sebuah universalitas keilmuan yang mencakup berbagai potensi yang ada, jika nanti tahapan ini mampu dilakukan oleh berbagai civitas yang ada di kajen, maka kajen akan menjadi sebuah icon dan barometer pendidikan pesantren yang mempunyai masa depan dan potensi yang dahsyat.

SEJARAH DAN PENGARUH KH. AHMAD MUTAMAKKIN

SEJARAH DAN PENGARUH KH. AHMAD MUTAMAKKIN

Sejarah awal mula datangnya Islam dan cara penyebarannya di Indonesia banyak versi dan dari beberapa teori yang muncul mempunyai dasar dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan pendapat diantara para ahli tersebut berkisar pada, kapan datangnya, siapa yang menyebarkannya dan melalui jalur mana serta dengan cara seperti apa, hingga pada motif pertanyaan mengapa Islam dapat menjadi pandangan mayoritas masyarakat Indonesia dengan berbagai aliran dan varian golongannya.

Sampai saat ini perdebatan para ahli sejarah tentang awal mula datangnya Islam di Indonesia masih terus berlanjut, dan perdebatan itu semakin seru ketika beberapa waktu yang lalu dalam tesisnya saudara Sumanto Al-Qurtuby memaklumkan sebuah teori baru tentang datangnya Islam di Indonesia, buku yang cukup kontroversial yang berjudul “Arus. Cina –Jawa-Islam” dengan tegas menyatakan bahwa Islam datang pertama kali bukan dari Parsi, Gujarat apalagi langsung dari Arab melainkan dari daerah yang selama ini menjadi momok sosial-ekonomi bagi segenap masyarakat jawa, yaitu Cina.

Lepas dari apakah tesis itu benar atau salah, perdebatan ini memberikan pelajaran tersendiri bagi umat Islam, bahwa Islam tanpa perlu dilihat dari mana asal datangnya yang lebih penting ajaran dan nilai-nilainya telah membaur dan menjadi pandangan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Mungkin yang lebih menarik diteliti lebih jauh mengapa Islam bisa diterima oleh bangsa kita melebihi agama yang lain bahkan melampaui tradisi lama yang telah sekian abad menjadi keyakinan masyarakat.

Namun demikian para ahli secara umum berpendapat, penyebaran Islam di Indonesia terjadi secara berangsur-angsur, bersifat variatif dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Batu nisan di leran Gresik memberi petunjuk kemungkinan telah ada komunitas Islam yang berkembang di daerah itu pada sekitar tahun 475 Hijriah ( 1082 M). Sementara marcopolo dalam catatannya sempat singgah 5 bulan di daerah Sumatra pada tahun 1292 M, dia menceritakan adanya kota pelabuhan Islam perlak yang telah ramai pada waktu itu, baru pada tahap selanjutnya melalui jalur perdagangan ke seluruh penjuru Nusantara Islam menyebar pada sekitar abad ke-XV-XVI.[3]

Di Jawa Islam menyebar dan berkembang seiring dengan kehadiran para pendatang dari gujarat dan cina melalui jalur perdagangan sekitar abad XV, namun H.J De Graaf dan TH. Pigeaud dalam bukunya kerajaan Islam pertama di jawa mensinyalir besar kemungkinan pada abad XIII di Jawa sudah ada orang Islam yang menetap melalui jalur perdagangan laut yang menyusuri pantai timur sumatra lewat laut Jawa yang sudah dilakukan sejak jaman dulu, sehingga mereka sempat singgah di daerah pantai utara laut jawa, karena pesisir pantai utara sangat cocok sebagai pusat pemukiman saat itu.

Penyebaran Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari pengaruh dan kiprah perjalanan orang-orang suci yang sangat legendaris dalam cerita lisan orang Jawa-Islam yang sangat populer dengan sebutan Wali berjumlah sembilan atau walisongo. Meskipun terkenal dengan sebutan walisongo diduga kemungkinan besar sebenarnya jumlah yang sesungguhnya lebih dari itu, namun angka sembilan dalam mitologi Jawa memiliki makna tersendiri, dan kesembilan wali yang populer dan diyakini masyarakat sebagai penyebar Islam pertama di Jawa adalah: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Gunungjati.

Kesembilan Wali tersebut diyakini oleh masyarakat Jawa memiliki kemampuan linuih baik secara fisik maupun spiritual, bahkan mereka dianggap mampu melakukan hal-hal yang sulit untuk diterima secara akali, merubah pohon pinang jadi emas dan membuat soko masjid dari pasahan kayu. Lepas dari perdebatan apakah cerita lisan itu benar atau salah yang jelas para wali yang jumlahnya sembilan itu memilki kemampuan lebih dalam arti yang rasional dan ilmiah yaitu mereka sebagai pendatang yang berusaha merintis sebuah ajaran dan ideologi baru mampu melakukan strategi yang jitu di dalam mencari celah-celah nilai antara tradisi dan keyakinan lama ( Hindu-Budha) dengan tradisi dan keyakinan baru ( Islam ) dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan, sehingga Islam sebagai nilai-nilai baru dengan strategi yang mereka bangun bisa diterima, bahkan sekarang menjadi ajaran mayoritas di indonesia.

Strategi dan taktik inilah sebenarnya yang sekarang diwarisi oleh lembaga pendidikan yang namanya pesantren, karena memang secara historis keberadaan pesantren tidak bisa terlepas dari sejarah keberadaan para wali tersebut. Penjagaan harmoni dan penghormatan terhadap nilai-nilai lama dan lokalitas sangat dijunjung tinggi di dalam proses akulturasi dan integrasi yang mereka lakukan. Intitusionalisasi pesantren merupakan perjuangan tahap lanjut dari pendekatan yang digunakan walisongo dalam meng-Islamkan tanah Jawa, kesalehan sebagai jalan hidup, pemahaman yang konkret dan utuh terhadap budaya lokal merupakan karakter yang dimilki para santri yang dulu juga pernah doiakukan walisongo.[4]

Perkembangan Islam di Jawa nenemukan momentumnya ketika para Wali dapat berintegrasi dengan para tokoh bangsawan Jawa saat itu, integrasi ini dilakuakn dengan berbagai cara diantaranya melalui pendidikan, perkawinan dan puncaknya ketika walisongo bersatu membangun masjid Demak dan menjadikannya sebagai pusat kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah pada paruh kedua abad XV, Demak cepat menjadi pusat perdagangan dan lalu lintas serta sekaligus menjadi pusat ibadah bagi golongan menengah Islam yang baru muncul.

Politik ekspansi raja-raja Demak dalam masa kejayaannya telah jauh masuk ke Jawa Barat, Tengah dan Timur, hal itu selalu dibarengi dengan dakwah agama, sebab semangat agama raja-raja Demak menganggap Masjid Demak sebagai simbol kerajaan Islam pada saat itu.[5]

Dalam sejarah dimaklumi Raden Patah sebagai raja Demak yang pertama, diyakini dia adalah keturunan raja kerajaan pra Islam majapahit yang terakhir yang dalam legenda bernama Brawijaya, ibu raden Patah konon sorang putri keturunan Cina dari keraton raja majapahit. Berturut-turut setelah kerajaan Demak dipegang oleh raden Patah pada tampuk kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh pangeran Sabrang Lor yang selanjutnya diteruskan oleh generagi ketiga yang bernama Trenggono, keduanya merupakan putra dari raden Patah raja pertama Demak.

Demak sebagai ibu kota kerajaan Islam menjadi titik tolak perjuangan pada dasawarsa pertama abad XVI untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh Jawa melalui berbagai ekspansi dan ekspedisi militer, ke arah barat Hasanuddin putra syech Nurullah yang lebih dikenal dengan gelar sunan gunungjati kelak kemudian diketahui sebagai raja Islam pertama di banten, sementara ke arah timur bisa dilihat Jaka Tingkir seorang prajurit yang mengabdi pada raja Demak dan menjadi menantunya Trenggono raja Demak generasi ketiga menguasai pajang dan menjadi raja disana yang setelah itu mengangkat pangeran Timur ( putra raja Demak ) sebagai bupati di Madiun.

Perluasan daerah melalui ekpansi dan ekspedisi ini menyebar ke berbagai arah penjuru Jawa sampai ke Madura pada paruh pertama abad XVI.[6]

Sementara itu penyebaran Islam di daerah Jawa bagian Tengah terjadi seiring dengan menyebarnya keturunan para raja demak ke berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Jaka Tingkir istri putri Trenggono raja Demak ketiga menguasai Pajang, Ratu putri Kalinyamat ( ipar perempuan raja Pajang ) memrintah di daerah Jepara dan daerah Pati saat itu dikuasai dan diperintah di bawah seorang raja yang bernama Ki Panjawi, teman seperjuangan Ki Gede Pamanahan dan Jaka Tingkir ( Sultan Hadiwijaya ) ketika melawan Aryo Penangsang untuk menuntut balas matinya saudara ipar Jaka Tingkir ( suami Ratu Kalinyamat ).

Diceritakan bahwa raja Demak ketiga Sultan Trenggono (putra Brawijaya atau Raden Patah, raja Demak pertama) telah mengawinkan salah satu putrinya dengan Jaka Tingkir ( Sultan Hadiwijaya ) dari perkawinan itu lahirlah Pangeran Benowo ( Raden Hadiningrat ) yang mempunyai putra bernama pangeran Sambo ( Raden Sumohadinegoro ) yang menurunkan putra Ahmad Mutamakkin.

Syech Ahmad Mutamakkin adalah seorang tokoh lokal yang menjadi cikal bakal dan nenek moyang orang kajen dan sekitarnya, yang kelak kemudian hari menjadi motivator dan inspirasi berdirinya pondok pesantren yang sekarang menjadi ciri khas desa tersebut. Syech Mutamakkin bagi masyarakat di wilayah Pati diyakini sebagai seorang Waliyullah yang memiliki kemampuan linuih baik dalam bidang spirituil ( keilmuan tentang Islam ) maupun supranatural ( karomah ). Beliau dilahirkan di Desa Cebolek, 10 Km dari kota Tuban, karenanaya beliau di kenal dengan sebutan Mbah bolek di daerahnya. Sedangkan nama al-Mutamakkin [7] merupakan nama gelar yang didapatkan sepulang menuntut ilmu di Timur Tengah, yang berarti orang yang meneguhkan hati atau diyakini akan kesuciannya.

Di desa asalnya itu yang sekarang sudah berganti nama menjadi Desa Winong dapat dijumpai penginggalannya berupa sebuah Masjid Kuno yang terletak di pinggir sungai yang didalamnya masih tersimpan kayu berbentuk lonjong agak bulat yang dipergunakan beliau untuk menjemur peci/baldu ( masyarakat sekitar menyebutnya Klebut) dan sebuah batu yang berbentuk asbak. Sementara keris pusaka Syech Ahmad Mutamakkin diyakini oleh masyarakat sekitar masih berada di dalam pohon sawo kecik yang berada di depan masjid itu. Kehidupan masyarakat yang damai dan tentram ini adalah hasil perjuangan beliau dengan menyadarkan para penyamun dan penjahat yang menguasai daerah itu sebelumnya.

Lazimnya orang yang hidup pada zaman dahulu, Mutamakkin muda mengembara untuk memenuhi hasrat keinginannya, suatu ketika sampailah pada sebuah tempat, tepatnya di sebelah utara timur laut Desa kajen sekarang, sebagaimana yang menjadi kebiasaan para pengembara pada waktu itu untuk menngembalikan suasana daerah asalnya sekaligus untuk memudahkan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru, diberilah nama daerah itu dengan “cebolek” seperti desa kelahiran beliau.

Di Desa barunya ini Syech Ahmad Mutamakkin sempat bermukim beberapa saat sampai suatu ketika ada kejadian mistik yang memberikan isyarat kepada beliau untuk menuju ke arah barat, kejadian itu beliau alami setelah menunaikan sholat isya’ dengan melihat cahaya yang terang berkilauan di arah barat, bagi mbah Mutamakkin hal ini merupakan isyarat, dan pada esok harinya beliau menghampiri tempat dimana cahaya pada malam hari itu mengarah. Disana beliau bertemu dengan seorang laki-laki tua yang dalam cerita lokal diyakini sebagai orang pertama kajen yang bernama Mbah Syamsuddin. Dalam pertemuan itu terjadi sebuah dialog yang didalamnya ada penyerahan wilayah kajen dari Mbah Syamsuddin kepada Mbah Mutamakkin untuk merawat dan mengelolanya. Makam mbah syamsuddin berada disebelah barat makam Mbah Mutamakkin tepatnya di sebelah arah selatan blumbang, yang sampai sekarang sering digunakan para santri untuk riyadloh dan menghafalkan al-qur’an.

Dalam masa hidupnya syech Mutamakkin sepenuhnya mengabdikan diri untuk penyebaran agama Islam di daerahnya, beliau pernah belajar di Yaman kepada Syech Muhammad Zayn al-yamani yang merupakan seorang tokoh Sufi dalam tarekat Naqsyabandiyah dan sangat berpengaruh di yaman saat itu. Tidak diketahui secara pasti kapan syech Mutamakkin berguru kepada Syech Muhammad Zayn al-Yamani, namun melalui tahun wafatnya ayah Syech Zayn ( Syech Muhammad al-Baqi ) tahun 1663 dan kematian putranya ( Abdul Khaliq Ibn Zayn ) tahun 1740 jadi diperkirakan Syech Zayn hidup antara abad XVI-XVII. Dengan demikian dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Syech Mutamakkin berguru pada beliau pada sekitar masa itu.

Menurut Zainul Milal Bizawi, penulis buku Perlawanan Kultural Agama Rakyat; Pemikiran dan paham Keagamaan Syech Ahmad Mutamakkin, Rihlah Ilmiah atau pengembaraan dalam menuntut ilmu serta jaringan keilmuan Syech Mutamakkin tidak terlalu penting, baginya yang lebih penting adalah tentang signifikansi dan sepak terjang beliau dalam dinamika Islam di Jawa terutama tentang pilihannya dalam memakai serat Dewaruci sebagai salah satu strategi dan metode dalam meyampaikan berbagai ajarannya.

Dalam serat cebolek diceritakan bahwa Syech Mutamakkin merupakan seorang tokoh yang mempunyai pemikiran kontroversial, yang pada saat itu sedang hangatnya pergumulan dalam pemikiran Islam antara Islam eksoteris yang berpegang teguh terhadap syari’at dan Islam esoteris yang mempunyai kecenderungan terhadap nilai-nilai substansial dalam Islam melalui ajaran ke-Sufian dan Tarekat. Syech Mutamakkin mewakili kelompok kedua dalam pergulatan tersebut, dengan berbagai ajarannya tentang ilmu hakekat yang dalam tasauf mengandaikan bersatunya antara kawula dan Gusti. Ajaran ini mendapatkan tempat di sebagian besar hati masyarakat saat itu karena memang mereka masih terbawa oleh budaya dan ajaran lama ( Hindu-Budha) yang dalam ajarannya identik dengan penerimaan terhadap hal-hal yang berbau mistik.

Sebagai seorang ‘alim, diceritakan Mbah Mutamakkin sangat teguh dalam memegang prinsip dan pendiriannya tentang Aqidah yang diajarkan dalam Islam, meskipun demikian beliau juga senang mengikuti dan mencermati cerita dalam pewayangan, terutama cerita yang menyangkut lakon Bima Suci atau Dewa Ruci, bahkan menurut penuturan Milal dalam bukunya, saking senangnya beliau termasuk satu-satunya orang yang fasih dan faham betul tentang alur dan penafsiran dalam cerita tersebut., karena memang bagi beliau cerita Bima Suci atau Dewa Ruci itu mengandung unsur kesamaan seperti apa yang pernah dipelajarinya dalam ilmu tasauf ketika berguru di Yaman pada syech Zain al-yamani.

Lazimnya seorang sufi, Mbah Mutamakkin gemar melakukan ritual-ritual yang berhubungan dengan peningkatan dalam meningkatkan kedekatan dan ketaqwaan kepada sang Khaliq ( Riyadloh), ritual ini biasanya beliau lakukan dengan melatih menahan dan mengurangi kegiatan makan, minum dan tidur, dalam rangka pengekangan hawa nafsu. Suatu ketika Mbah Mutamakkin melakukan riyadloh dengan puasa selama 40 hari. Pada hari terakhir riyadloh, sangi istri diminta untuk memasak yang enak dan lezat setelah itu disuruh untuk mengikat beliau, agar dapat mengalahkan hawa nafsunya. Namun sebagain versi lain mengatakan bahwa kejadian ini (pengikatan) hanya sebagai simbol pertarungan beliau dengan hawa nafsunya, yang akhirnya keluar dari dalam dirinya dua ekor anjing yang dengan lahapnya langsung menghabiskan hidangan yang telah disajikan oleh istrinya. Dua anjing tersebut lalu diberi nama oleh beliau Abdul Qohar dan Qomaruddin yang kebetulan menyamai nama penghulu dan khotib Tuban, pemberian nama ini bagi sebagian masyarakat yang anti terhadap beliau dianggap sebagai penghinaan atau bahkan sebagai sebuah kritik terhadap para penguasa saat itu, namun menurut H.M Imam Sanusi pemberian nama itu mengandung arti dan perlambang bagi Mbah Mutamakkin sendiri, yaitu hamba Allah yang mampu memerangi hawa nafsunya.

Mbah Mutamakkin adalah sosok seorang ‘alim yang terbuka, berani, apa adanya dan suka bercanda dan menguji seseorang, sikap dan sifat tersebut pernah membuat seorang musafir merasa terhina karena ketika bertamu di rumah beliau tersinggung oleh perkataan yang dilontarkan Mbah Mutamakkin pada saat menjamu makan nasi berkat ( satu porsi nasi dari kenduren ) yang dihabiskan sampai bersih, dikatakan oleh beliau bahwa anjingnya saja tidak suka makan ikan kering, apalagi sampai habis seperti itu. Karena tamu tersebut tidak terima dengan perkataan Mbah Mutamakkin yang dianggapnya sebagai sebuah penghinaan, akhirnya tamu itu membuat selebaran dan diedarkan kepada para ulama yang berisi tentang kehidupan Mbah Mutamakkin yang memelihara anjing dan suka melihat dan mendengarkan wayang, padahal bagi masyarakat Islam hal itu dianggap melanggar peraturan hukum Islam. Karena kejadian itu akhirnya Mbah Mutamakkin sempat disidangkan di keraton surakarta dengan penuntut seorang ‘alim dari kudus yang bernama katib anom untuk dihukum mati dengan dibakar, namun yang terjadi bukan hukuman malah sebaliknya beliau dibebaskan tanpa syarat dan berhasil kembali ke Kajen untuk meneruskan perjuangan atas apa yang menjadi keyakinannya.

Banyak versi baik yang tertulis maupun yang masih beredar dalam keyakinan masyarakat Kajen yang menceritakan tentang sejarah kehidupan Mbah Mutamakkin, dan dari kedua versi yang berkembang saling bertolak belakang sesuai dengan sudut pandang masing-masing, versi yang ditulis oleh penguasa saat itu yang lebih dikenal dengan “serat cebolek” menempatkan Mbah Mutamakkin sebagai seorang pembangkang dan penganjur aliran sesat yang kurang mampu dan memahami bidang agama sementara versi yang diyakini masyarakat Kajen dan ditulis oleh salah satu pengikut dan keturunannya berdasarkan “lokal historis” masyarakat sekitar Kajen menempatkan Mbah Mutamakkin sebagai seorang yang ‘alim dan suci sebagi penganjur agama Islam di daerah itu bahkan beliau menempati posisi tertinggi dalam struktur keyakinan masyarakat Islam sebagai seorang waliyullah, demikian juga yang disimpulkan dalam bukunya “Memelihara Umat” Pradjarta menyatakan bahwa Mbah Mutamakkin adalah seorang perintis pertama dan penyebar agama Islam di daerah Tayu dan sekitarnya.

Wallahu a’lam, lepas dari perdebatan berbagai versi yang ada mana yang dianggap benar. Namun satu yang pasti dan dapat dibuktikan bahwa Mbah Mutamakkin berhasil lolos dari tuntutan atas kematiannya dan di masyarakatnya sampai sekarang tetap diyakini sebagai seorang wali yang memilki berbagai kemampuan linuih dan karomah. Bahkan kehadirannya di desa kajen telah menjadi pioner dan perintis dari berdirinya pesantren dan penyebaran agama Islam di wilayahnya, ini merupakan bukti nyata bahwa beliau diterima dan dipercaya oleh masyarakatnya, dan sejarah adalah bukti yang paling real atas sebuah peristiwa yang terjadi.

Perjuangan dan ajaran beliau sampai sekarang masih diyakini dan dipegang teguh oleh keturunan dan para pengikutnya, pengaruh beliau masih dapat dirasakan sampai sekarang, layaknya sebagai tanah perdikan pada zaman itu yang dibebaskan dari pembayaran pajak, Kajen sekarang adalah tanah pendidikan yang menjadi alternatif dari bentuk pendidikan nasional yang ada, kajen dengan daya tarik dan berbagai kelebihannya ingin menyampaikan bahwa sejarah independensinya sebagai tanah perdikan tidak sekedar mandiri dalam arti sempit yang mengelola kehidupannya sendiri namun lebih dari itu Kajen adalah sebuah desa yang senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi tanpa menghilangkan nilai lokalitas yang dimilkinya, pembangunan bukan berarti merubah segala sesuatu dengan menghancurkan yang lama,tapi pembangunan adalah suatu usaha untuk memahami jati diri dan potensinya yang disesuaikan dengan kebutuhan demi kemaslahatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan pesantren di desa kajen yang mencapai 26 dan sekitar 5 madrasah yang semuanya dikelola dan dikembangkan oleh keturunan sang pejuang dan penganjur nilai-nilai luhur dan keislaman, Mbah Mutamakkin.

LATAR BELAKANG PESANTREN POTRET SOSIAL-GEOGRAFIS DESA KAJEN

LATAR BELAKANG PESANTREN POTRET SOSIAL-GEOGRAFIS DESA KAJEN Kajen merupakan contoh potret desa yang unik dan menarik, lazimnya sebagai sebuah desa Kajen tidak memiliki sawah. Disana kehidupan bisa dikatakan maju dari segi pendidikan karena memang Kajen terkenal dengan sebutan “Kampung Santri” yang memiliki 24 pesantren dan lebih dari 5 sekolahan madrasah. Untuk hitungan sebuah desa catatan ini sangatlah mengagumkan. Disamping populer dengan predikat atau julukan “kampung Santri” dan menjadi obyek ziarah umat Islam dari berbagai daerah, di desa ini pernah hidup orang suci bernama Syech K.H Ahmad Mutamakkin ( Mbah Mutamakkin ), cikal bakal keberadaan desa Kajen.

Kajen merupakan contoh potret desa yang unik dan menarik, lazimnya sebagai sebuah desa Kajen tidak memiliki sawah. Disana kehidupan bisa dikatakan maju dari segi pendidikan karena memang Kajen terkenal dengan sebutan “Kampung Santri” yang memiliki 24 pesantren dan lebih dari 5 sekolahan madrasah. Untuk hitungan sebuah desa catatan ini sangatlah mengagumkan. Disamping populer dengan predikat atau julukan “kampung Santri” dan menjadi obyek ziarah umat Islam dari berbagai daerah, di desa ini pernah hidup orang suci bernama Syech K.H Ahmad Mutamakkin ( Mbah Mutamakkin ), cikal bakal keberadaan desa Kajen.

Sebagaimana diketahui banyak orang, desa yang tidak mempunyai sawah itu menyimpan sejarahnya yang panjang. Meskipun tidak mempunyai sawah seperti desa-desa yang lain, namun secara ekonomi masyarakat kajen bisa dikatakan kecukupan. Bahkan setiap tahunnya peningkatan itu dapat disaksiskan dan dirasakan. Keberadaan masyarakat Kajen tertopang dengan mukimnya ribuan santri yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia, mereka datang untuk merasakan sejuknya desa Kajen dan ramainya kegiatan tholabul ‘ilmi.

Bau menyengat hidung adalah kesan pertama kali bagi para pendatang ketika memasuki desa kajen, karena memang daerah ini dialiri sungai tempat pembuangan limbah tapioka desa ngemplak yang membelah desa dari arah barat ke timur menuju ke muara laut bulumanis. Bau limbah itu bagi masyarakat desa telah menjadi bagian dalam hidupnya, seakan mereka sudah kebal dan tak perlu menghiraukannya lagi. Selain suasananya yang sejuk dan damai, desa ini identik dengan keberadaan bangunan-bangunan yang dihuni oleh banyak santri mukim yang lebih dikenal dengan nama pesantren. Secara sosiologis desa kajen merupakan sebuah wilayah yang dihuni oleh penduduk yang bercorak homogen, yang sebagian besar masyarakatnya memeluk dan meyakini ajaran Islam sebagai dasar dalam perilaku hidup sehari-hari.

Karena kondisi wilayahnya yang tidak memiliki areal persawahan, masyarakat kajen dalam memenuhi kebutuhan hidupnya bertopang pada perniagaan dan mengerjakan lahan milik desa sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sangat memegang norma-norma sosial baik itu yang tertulis seperti yang dianjurkan dalam ajaran agama Islam atau norma yang bersifat konvensional, seperti dilarang membuat keonaran dan mencoreng nama baik desa dan leluhur. Dalam pelaksanaan norma-norma tersebut kesadaran masyarakat lebih didorong oleh ketaatannya kepada kiai yang memang dalam penerapan sebuah kebijakan baik itu yang bersifat formal ataupun informal lebih efektif dibanding birokrasi setempat. Karena kiai dalam masyarakat kajen selain memiliki nilai historis yang panjang dalam sejarah masa lalunya, juga menempati posisi terpenting sebagai salah satu unsur dalam struktur sosial masyarakat kajen. Dalam sejarahnya birokrasi pemerintahan desa terlihat subordinat terhadap para kiai, selain kurang berfungsinya pamong desa dalam kegiatan kemasyarakatan, hal ini juga dikarenakan masyarakat masih percaya betul bahwa figur seorang kiai mampu untuk digugu dan ditiru dalam melaksanakan aktifitas kehidupan sehari-hari.

Secara geografis, desa kajen berada di wilayah pati sebelah utara, tepatnya di lembah sebelah timur gunung muria, menghampar ke arah barat dari pantai bulumanis yang landai dengan kesuburan tanah yang cukup. Desa ini berdiri diketinggian sekitar 300 m dari permukaan laut dengan hawanya yang sejuk penuh rindangnya berbagai tumbuhan dan jernihnya mata air murni, yang dalam situasi tertentu kedalaman 1,5 meter sudah memancarkan sumber air . Jarak 18 km dari kota pati kearah utara desa ini akan kita jumpai, tepatnya di kecamatan Margoyoso. Dengan luas wilayah yang hanya sekitar 63 hektar dengan penduduknya yang padat, menjadikan sebagian besar desa ini berupa pekarangan yang ditanami ketela dan pohon kelapa seluas hampir 4 hektar yang berada sekitar rumah penduduk.

Kondisi ini mengakibatkan penduduk desa kajen mesti memutar otak untuk mencari lahan penghidupan, dengan tuntutan itu akhirnya mereka melakukan aktifitas ekonomi dalam bidang, perdagangan, jual jasa, dan menjadi buruh tani dan pabrik tapioka di desa seberang. Atau bagi sebagian penduduk yang memiliki kapital dan masih ingin melakukan kerja di bidang pertanian berusaha menyewa sawah di desa sekitar kajen atau membuka usaha pemenuhan kebutuhan para santri.

Saat ini ada 26 pesantren dan ribuan santri yang bertholabul ilmi di desa kajen, dagang dan jual jasa menjadi lahan bisnis yang menjanjikan, bahkan bisa dipastikan disekitar setiap pesantren yang ada di kajen berdiri minimal, warung makan dan toko kelontong. Dengan konsumen yang tetap dan berjumlah besar, warung makan dan toko kelontong mengalami perkembangan yang pesat dan lebih dari cukup untuk sekedar menopang kebutuhan hidup sehari-hari.

Ditengah desa kajen, berdiri sebuah bangunan sebagai pusat administrasi pemerintahan desa atau balai desa, letaknya tepat disebelah selatan masjid besar desa kajen dan arah timur makam syech Ahmad Mutamakkin, tokoh religius desa kajen yang dikeramatkan dan menjadi cikal bakal adanya desa ini. Meski setiap harinya tidak begitu difungsikan, balai desa saban tahunnya pada bulan muharrom tgl 10 menjadi pusat informasi dan kegiatan masyarakat, yaitu ritual yang ditungu-tunggu setiap warga desa dan menjadi agenda rutin tahunan, haul syech Ahmad Mutamakkin.

Kegiatan administrasi desa tidak efektif dan cenderung vakum kecuali pada momen-momen tertentu, hal ini dikarenakan oleh kondisi desa kajen, sebagai sebuah pedesaan kajen tidak memiliki bengkok atau bondo desa, akhirnya pamong desa hanya digaji sekedarnya dengan jumlah yang sangat minim, hal ini menjadikan jabatan itu sekedar kerja sambilan bagi orang yang mendudukinya, sehingga warga kurang berminat untuk menjadi pamong desa. Kalau tidak lowong, pernah carik mesti merangkap menjadi pejabat sementara lurah desa mulai tahun 1986 sampai pada tahun 1998 dan baru pada akhir tahun itu diadakan pemilihan lurah.[1]

Selain karena faktor sejarah, desa kajen pernah menjadi tanah perdikan, tidak efektifnya struktur dan kinerja administrasi desa menjadikan pengaruh kekuasaan pemerintah pusat sangat terbatas dan cenderung tidak ada. Meskipun pendapatan desa hanya bertumpu pada pemasukan peringatan khaul syeh Ahmad Mutamaakin setiap 10 muharrom pada tiap tahunnya, kemakmuran dan kemajuan desa ini melebihi desa-desa sekitarnya.

Keberadaan pesantren sebagai pusat studi keislaman dan da’wah menjadikan kajen identik dengan sebutan “Kampung santri”, keunikan ini terlihat setiap hari terutama pada pagi dan sore hari berbondong-bondong para santri menyebar menyusuri jalan desa menuju tempat-tempat pendidikan. Setiap saat hampir diseluruh pelosok desa akan mudah ditemui sosok santri yang populer dengan sebutan kaum sarungan ini. Kemanapun mereka pergi dan berada di wilayah ini dapat dipastikan mengenakan sarung dan peci sebagai sebuah identitas yang melekat pada dirinya. Seakan ada semacam tuntutan yang menjadikan mereka harus menggunakannya dan ada perasaan malu dan bersalah ketika tidak memakainya.

Di waktu gelap dalam keremangan malam yang khusuk terdengar sayup menghampiri gendang telinga setiap penghuninya, suara-suara merdu yang mengalunkan lantunan melafalkan kalam ilahi, apalagi setiap malam jum’at disebuah bangunan yang berada ditengah Desa berbondong-bondong santri dan masyarakat sekitar datang untuk membaca yasin dan tahlil bermunajad dan wasilah dimakam Syech Ahmad Mutamakkin, tokoh perintis Desa yang dianggap masyarakat sekitar sebagai seorang kekasih Allah ( Waliyullah ).

Ritual ini tidak hanya bernilai religius dan ilahiah, karena sekarang keberadaan Makam selain menjadi pusat ibadah dan kegiatan keagamaan bagi santri dan masyarakat setempat juga mendatangkan rezeki dengan berjalannya kegiatan ekonomi di sekitar Makam. Berderet bangunan permanen yang menyediakan berbagai kebutuhan dan souvenir bagi para peziarah, mulai dari penjual makanan dan minuman sampai penjual buku, peci dan keperluan komunikasi dengan adanya wartel. Perkembangan ini mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar kajen, mereka dapat menggantungkan rezeki dari para peziarah yang datang setiap hari dan mulai ramai di malam jum’at.

Keramaian itu meningkat dan mencapai puncaknya setiap malam 10 syuro dengan diperingatinya Haul Syech Ahmad Mutamakkin, ritual ini sudah menjadi agenda tahunan dan ceremonial bagi masyarakat wilayah ini dan sekitarnya, bahkan peziarah setiap tahunnya terus meningkat dari berbagai penjuru Indonesia. Ritual ini diisi dengan berbagai agenda kegiatan oleh panitia, yang dimulai pada tanggal 8 Syuro pada jam 20.00 WIS [2] dengan pembacaan Burdah ( pembacaan syair-syair yang berisi tareh Nabi Muhammad S.A.W), dilanjutkan pada tanggal 9 Syuro pada jam yang sama Tahlil Muqoddimah untuk umum dengan mendo’akan para leluhur dan nenek moyang dan pagi harinya diteruskan dengan ritual yang ditunggu-tunggu oleh banyak pihak yaitu acara buka selambu dan acara pelelangan. Dan pada tanggal 10 Syuronya pada jam 19.00 WIS diisi dengan acara Tahtimul Qur’an bin Nadlor ( Khataman Al-Quran dengan membaca Kitabnya ) diteruskan dengan Tahlil Haul pda jam 20.00 WIS baru pada malam berikutnya tanggal 11 Syuro ritual acara ditutup dengan manaqib pada jam 19.30 WIS.

Dari sekian agenda yang dilangsungkan setiap tahunnya yang menjadi puncak dan acara yang selalu dinanti-nantikan adalah buka kelambu yang dilanjutkan pelelangan, acara ini menjadi perhatian banyak pihak mulai dari para santri, tokoh-tokoh kiai, masyarakat setempat dan sekitar daerah Pati, bagi yang berminat mengikuti acara ini mesti rela untuk datang pagi-pagi sekitar jam 06.00 WIS, karena satu jam menjelang acara yang dimulai pukul 08.00 WIS tempat acara yang dilangsungkan di serambi makam Syech Ahmad Mutamakkin bagian timur telah padat penuh sesak para pengunjung. Acara ini pada intinya adalah mengganti berbagai kain yang digunakan untuk menutupi dan menghiasi Makam Syech Ahmad Mutamakkin, mulai dari layar yang menutupi kaca Makam bagian dalam sampai pada kain mori yang digunakan untuk penutup “patok”, kegiatan ini menarik, karena layaknya sebuah kain harga yang di tawar dalam lelang melebihi harga yang semestinya, hal ini wajar bagi masyarakat sekitar, karena acara ini diadakan setahun sekali selain kain itu merupakan kain yang digunakan menutup dan menghiasi Makam orang suci, bagi kepercayaan masyarakat kain tersebut mengandung tuah dan akan mendapatkan berkah bagi orang yang memakainya.

Selesai pelelangan ada acara yang telah menjadi adat dan tergolong unik, yaitu diadakannya makan bersama antara masyarakat umum, santri dan para tokoh kiai setempat di dalam satu “tapsi” atau nampan, mereka dibiarkan berebut tempat untuk membaur bersama. Hal ini menunjukkan bersatu dan padunya antara masyarakat dan para tokoh kiai setempat, dan begitulah semestinya antara pemimpin dan yang dipimpin. Pernah ada sebuah kejadian yang diceritakan oleh seorang kiai muda Desa Kajen yang pada saat itu melarang masyarakat yang ikut nimbrung dengan Mbah Abdullah Salam ( Mbah Dullah ) dengan memukul tangannya ketika akan mulai makan bersama, karena mendahului Mbah Dullah. Selesai acara kiai muda tersebut di panggil Mbah Dullah dan dikasih wejangan “ jangan ulangi kelakuan seperti tadi, karena sebenarnya Mbah Mutamakkin adalah seorang pemimpin yang merakyat, mencintai dan dicintai rakyatnya, bahkan wasilah kepada beliau dari rumah saja akan sampai tanpa harus datang kemakamnya” begitu pesan Mbah Dulllah kepada kiai muda itu.

Dalam acara ritual tahunan ini masyarakat dan santri juga mengadakan berbagai event untuk memeriahkannya, seperti kirab dan karnaval yang diikuti oleh semua RT yang ada di Desa Kajen, dalam kirab yang menjadi acara favorit adalah dengan hadirnya berbagai grup Drum Band dan Maching Band yang sengaja di datangkan dari berbagai wilayah di sekitar Pati, selain itu ada acara rutin tahunan yang menarik di lakukan oleh HSM ( Himpunan Siswa Mathali’ul Falah) yaitu bursa buku, bursa buku ini menghadirkan terbitan buku dari berbagai penerbit mulai dari Surabaya, Semarang dan yogyakarta.

Ribuan pengunjung yang datang menghadiri acara haul Mbah Mutamakkin, hampir selama satu minggu sebelum dan sesudah puncak acara, desa kajen telah ramai dari para pedagang dan pengunjung yang sengaja datang untuk ikut serta mengais rezeki dari barokahnya Waliyullah ini. Dua hari setelah dan sesudahnya tanggal 9 Syuro, kepadatan pengunjung mencapai klimaksnya, pertigaan Desa Ngemplak sampai pertigaan Desa Bulumanis penuh oleh lautan manusia, dapat dipastikan disaat seperti ini mobil sulit untuk melintas, apalagi memasuki area sekitar Makam, mereka mesti rela untuk berjalan kaki dari radius sekitar 1 Km dari Makam.

Situasi ini dimanfaatkan oleh sebagian penduduk yang mempunyai pekarangan sepanjang jalan keramaian, kereka mematok harga yang lumayan untuk sewa para pedagang, masih lagi kendaraan para pengunjung yang di parkir di tempat penitipan sepeda. Sampai sekarang belum ada yang pernah melakukan penelitian berapa jumlah rupiah yang berputar di Desa ini selama pelaksanaan haul Mbah Mutamakkin, namun jika dilihat dari puluhanan atau mungkin bahkan sampai ratusan kios yang berada di sepanjang jalan memasuki desa kajen dapat diperkirakan puluhan juta uang yang berputar mungkin bisa mencapai ratusan juta. Acara seremonial haul ini telah menjadi agenda tahunan dan salah satu ciri khas yang menjadi daya tarik desa Kajen dan selalu diadakan setiap tahunnya yang terus mengalami perkembangan.

PASANG IKLAN


selep kajen jatayu furniture waroeng simon


pasang iklan?? klik disini