Kamis, 01 April 2010

gusdur sowan di kajen

Belum genap seminggu terpilih sebagai Presiden RI, Sabtu kemarin Abdurrahman Wahid mulai melakukan perjalanan ke luar kota. Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, mendapat kehormatan menjadi daerah pertama yang dia kunjungi. Gus Dur mencium tangan kiai


PATI - Tiga hari setelah dilantik menjadi presiden ke-4 RI, KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kemarin melakukan ziarah ke makam para
leluhurnya. Selain berziarah ke makam KH Ahmad Mutamakkin di Kajen,
Margoyoso, Pati, Ketua Umum PBNU itu juga berziarah ke makam kakeknya,
Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, serta makam ayahnya, KH
Wahid Hasyim, di Jombang.
Dalam kunjungannya di Pati, Presiden mengingatkan warga NU tidak perlu
mengadakan syukuran atas terpilihnya dia menjadi kepala negara. Namun
cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu memperbolehkan warga nahdliyyin
mengadakan selamatan atau berdoa memohon keselamatan bagi bangsa dan
negara Indonesia. "Kalau selamatan boleh, biar selamet,'' katanya,
saat berziarah di makam KH Ahmad Mutamakkin.
Selain berziarah, Gus Dur juga bersilaturahmi dan memohon doa restu
kepada para sesepuhnya KH Abdullah Salam dan KH MA Sahal Mahfudh di
Pondok Pesantren Maslakul Huda, sekitar lima ratus meter dari makam
Mbah Mutamakkin.
Ribuan warga menyambut kedatangan Presiden baru tersebut. Sepanjang
jalan yang dilalui rombongan dipenuhi massa. Mereka melambai-lambaikan
tangan kepada tokoh idolanya, sebagian lagi mengumandangkan salawat
dan takbir.
"Hidup Gus Dur, hidup Gus Dur. Hidup murah sandang, murah pangan. Kami
ditekani Presiden. Mohon doanya, Pak Presiden,'' tariak salah seorang
warga.
Tidak Kaku
Berbeda dari zaman Orde Baru, saat Presiden berkunjung ke suatu daerah
hampir dapat dipastikan pengamanannya sangat ketat. Sepanjang jalan
dijaga aparat keamanan lengkap dengan senjata. Radius 500 meter dari
lokasi pun harus steril dari massa. Bahkan, sehari sebelum upacara
berlangsung lokasi dan jalan yang akan dilalui presiden harus sudah
diseterilkan oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).

Namun, saat Presiden KH Abdurrahman Wahid berkunjung ke Kajen, Pati,
kemarin, suasananya benar-benar lain. Masyarakat dapat dengan mudah
mendekati Presiden untuk melihat dan memberikan ucapan selamat.

Berdasarkan pemantauan, sejumlah anggota Paspampres tetap ketat
mengamankan lokasi, baik sepanjang jalan yang dilalui, rumah KH
Abdullah Salam, rumah KH MA Sahal Mahfudh, maupun di makam KH Ahmad
Mutamakkin. Misalnya, tas-tas wartawan digeledah, begitu pula makanan
yang akan disuguhkan rombongan Presiden juga diperiksa. Di pintu makam
Mbah Mutamakkin juga dipasang detektor logam. Namun, pengamanan yang
dilakukan Paspampres kemarin tidak menimbulkan kesan kaku dan angker.
Bahkan, mereka yang berseragam batik sutera dan berpeci hitam dengan
logo burung garuda kecil di kerah baju, berkesan ramah dan bersahabat.

Saat menunggu kedatangan rombongan, para wartawan mengajak saling
tebak-tebakan mengenai ihwal kedatangan Gus Dur tersebut. Apakah
Presiden KH Abdurrahman Wahid nanti mengenakan sepatu atau sandal,
mengenakan jas, dasi atau baju batik, serta memakai celana atau
sarung.

Sebab, selama ini Gus Dur lebih senang memakai sandal daripada sepatu.
Bahkan, saat menerima rombongan pengurus PBNU di Wisma Negara beberapa
hari lalu, Gus Dur memakai sandal.

"Pengamanan Presiden Abdurrahman Wahid memang ketat, tapi tidak
terlalu kaku. Kami juga merasa enak dengan tugas seperti ini,'' kata
salah seorang anggota Paspampres.

Pangdam IV/Diponegoro mengaku tidak bisa melarang masyarakat yang
ingin mendekat dan melihat Gus Dur. Hal ini karena Ketua Umum PBNU itu
sangat dicintai berbagai lapisan masyarakat.

"Gus Dur kan benar-benar presidennya rakyat. Yang memilih beliau itu
rakyat. Jadi, kami tak bisa terlalu menghalang-halangi,'' tuturnya.

Kepala Negara dan rombongan tiba pukul 11.15 menggunakan tiga heli
TNI-AU Super Puma. Khusus untuk Gus Dur dan istrinya, Dra Hj Nuriyah,
heli kepresidenan. Rombongan berangkat dari Bandara A Yani Semarang
dan turun di Lapangan Desa Ngemplak Lor, Margoyoso, sekitar enam
kilometer dari kediaman Kiai Sahal.

Dalam rombongan tersebut antara lain Gubernur H Mardiyanto dan Pangdam
IV/Diponegoro Mayjen TNI Bibit Waluyo dan Kapendam Kolonel Czi Sugeng
Suryanto. Gus Dur didampingi empat adik kandungnya dan anak sulungnya.

Sedangkan rombongan penjemput antara lain KH MA Sahal Mahfudh, Ketua
DPRD Jateng Mardijo, Ketua PWNU Drs H Achmad, Wakil Ketua Drs H Ali
Mufiz MPA, Kapolda Mayjen Pol Drs Nurfaizi, Rektor IAIN Walisongo Dr A
Qodri Azizy, dan Bupati H Yusuf Muhammad.

Gus Dur memakai baju batik lengan panjang warna biru dan celana gelap,
lengkap dengan peci hitam. Begitu turun dari heli, Gus Dur langsung
dipapah Paspampres menuju mobil dinas yang biasa dipakai Gubernur.
Nomor polisi mobil diganti dengan B-1. Gus Dur satu mobil dengan
Gubernur Jateng. Sedangkan istri Gus Dur turun, kemudian dengan
menggunakan kursi roda menuju mobil sedan Timor Nopol B-3. "Aneh, Ibu
Negara kok pakai mobil Timor,'' celetuk seorang di pinggir lapangan.

Dari Lapangan Ngemplak Lor, rombongan langsung menuju makam KH Ahmad
Mutamakkin, yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah Kiai Sahal. Di
sana ribuan warga dan santri sudah menunggu kedatangan Gus Dur sejak
pagi. Seperti halnya yang terjadi di sepanjang perjalanan, di kompleks
makam itu pun warga dan santri menyambut Presiden dengan membaca
salawat.

Kompleks makam KH Ahmad Mutamakkin tidak terlalu luas. Sehingga jamaah
atau santri yang bisa masuk ke sana sangat terbatas, sebagian besar
berdesak-desakan di pinggir jalan. Raut muka mereka tampak senang
karena desanya dikunjungi oleh Presiden.

Membaca Tahlil

Kegiatan yang dilakukan Presiden di makam itu adalah membaca tahlil.
Pembacaan tahlil dipimpin KH Abdul Hamid, Rais Syuriyah NU Cabang
Pati. Sebelumnya, kata sambutan disampaikan Kiai Sahal. Gus Dur duduk
di sebelah kiri Kiai Sahal, sedangkan Gubernur H Mardiyanto duduk di
sebelah kanan.

Pembacaan tahlil (laa ilaaha illallaah) hanya sekitar 10 menit. Pada
kesempatan itu, Gus Dur menyatakan kedatangannya ke Pati tersebut
bukan sebagai presiden, melainkan sebagai keturunan KH Ahmad
Mutamakkin. Menurutnya, saat masih hidup, ulama besar itu selalu
menegakkan kebenaran dan keadilan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Gus Dur berpesan
kepada masyarakat untuk tidak perlu hura-hura. "Saya titip pesan,
masyarakat Pati ndak perlu ramai-ramai. Persatuan dan kesatuan lebih
penting. Kalau benar masyarakat Pati cinta Mbah Mutamakkin, insya
Allah, adil dan makmur akan segera terwujud,'' tuturnya.

Setelah itu, Gus Dur menuju kediaman Kiai Sahal. Namun, sekitar dua
menit kemudian dia keluar untuk bersilaturahmi ke rumah KH Abdullah
Salam, sekitar 500 meter dari rumah Kiai Sahal.

Untuk menuju ke rumah KH Abdullah Salam tersebut, Gus Dur harus
melalui lorong-lorong atau gang kampung dengan berjalan kaki.
Paspampres memapahnya. Di sepanjang lorong yang dilalui tidak
menunjukkan persiapan akan dikunjungi Presiden. Beberapa pakaian
penduduk masih terlihat di jemuran. Gus Dur memasuki rumah KH Abdullah
Salam lewat dapur. Putra mantan Menteri Agama KH Wahid Hasyim itu
langsung duduk bersimpuh dan mencium tangan Mbah Dullah, panggilan KH
Abdullah Salam. Silaturahmi Gur Dur dengan kiai karismatik itu hanya
sekitar 10 menit.

Setelah itu, Presiden menuju rumah Kiai Sahal. Meskipun pengamanan
tidak ketat, sejumlah wartawan tidak bisa masuk. Menurut Kiai Sahal,
pertemuannya dengan Gus Dur tersebut lebih merupakan silaturahmi
keluarga. Hal ini karena antara dia dan Gus Dur masih ada hubungan
nasab, yakni paman.

Wakil Rais Aam PBNU itu juga mengaku dalam pembicaraan dengan Gus Dur
tidak menyebut-nyebut penyusunan kabinet. Alasannya, katanya, NU tidak
pernah mempunyai target jabatan politis.

Dari Pati, Presiden dan rombongan langsung menuju Jombang untuk
berziarah ke makam kakeknya, KH Hasyim Asy'ari.

Menitikkan Air Mata

Di Jombang, Gus Dur berziarah ke makam kakeknya, Hadratusy Syech KH
Hasyim Asy'ari, di Kompleks Pondok Tebu Ireng.

Di pusara kakeknya itu, Gus Dur sempat menitikkan air mata, apalagi
saat itu KH Chotib Umar, pimpinan Pondok Sumber Bringin Jember (salah
satu tokoh ulama khos) yang memimpin bacaan tahlil, juga tidak kuasa
menahan haru dan menangis.

Presiden yang datang sekitar pukul 13.55 dengan helikopter dari Pati
langsung disambut shalawat badar para santri Pondok Tebu Ireng.
Penjagaan tampak sangat longgar, hanya beberapa pengawal khusus
Presiden dan para anggota Satgas Banser GP Ansor Jombang.

Setelah sekitar 15 menit beristirahat di rumah utama, Gus Dur menuju
kompleks makam yang berjarak sekitar 100 meter. Di makam Gus Dur
membaca tahlil yang diakhiri doa. Sebelum meninggalkan makam, Gus Dur
secara khusus berdoa di makam ayahnya, almarhum KH Wahid Hasyim.

Pukul 14.35, seluruh rangkaian acara ziarah selesai, Gus Dur langsung
meninggalkan kompleks Pondok Tebu Ireng dan melanjutkan perjalanan
menuju Pondok Mamba'ul Ulum Denanyar, yang berjarak sekitar 10
kilometer dari Tebu Ireng.

Di Denanyar, Presiden mengatakan, untuk sementara tugas-tugas yang
akan ditangani Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri adalah mengurusi
masalah Ambon, Irian Jaya, dan Riau. "Pokoknya mengurusi bagian yang
tidak enak-enak," kata Kepala Negara.

"Untuk sementara saya akan mengurusi masalah Aceh, juga mengurusi
masalah pembangunan ekonomi kita, dan mengatasi masalah pangan serta
menggarap masalah kelautan," tambahnya.

Menurut Presiden, untuk menggarap masalah kelautan ini dia akan
membentuk departemen urusan pengembangan eksploirasi kelautan. "Sebab
laut kita itu kaya raya, tetapi angkatan lautnya miskin," kata
Presiden. Karena Angkatan Laut Indonesia miskin, tambah Kepala Negara,
kekayaan lautnya dijarah orang lain. "Sekarang ini kita harus membuat
angkatan laut yang kuat," ujar KH Abdurrahman
Wahid.

tragedi SBY datang ke-KAJEN


tragedi SBY datang ke-KAJEN dalam peresmian STAI MAFA

PATI- Hanya demi sepucuk surat yang hendak disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seorang anak kecil nekat menerobos barisan pengawal presiden. Alektrika Nurun Nafiah, bocah itu, tak memedulikan ketatnya penjagaan saat itu.

Peristiwa tersebut terjadi ketika SBY bersilaturahmidengan tokoh masyarakat dan civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Islam Mathaliul Falah (Staimafa) Pati, kemarin. Mengetahui ada yang menerobos pengawalan, Paspampres dengan sigap mencegah anak itu mendekati orang nomor satu di negeri ini. Namun Alektrika tetap nekat.


SBY yang mengetahui kejadian itu, menghentikan langkahnya ketika hendak memasuki mobil. Dia selanjutnya meminta Paspampres memberikan jalan kepada anak itu untuk bertemu dan bersalaman langsung dengannya.

Menurut Alektrikam, surat yang disampaikan kepada SBY berisi permintaan agar biaya pendidikan murah. Siswi SMP Islam Terpadu Al Masyhur, Kayen, Pati itu memberanikan menulis surat kepada presiden karena priharin atas nasib temannya, Sulastri.
’’Dia anak cerdas dan berprestasi, tapi justru putus sekolah karena tidak punya biaya,’’ katanya.

Terkait dengan masalah biaya pendidikan, menurut SBY, ke depan anggaran pendidikan akan dialokasikan secara adil. Bukan hanya mengutamakan lembaga pendidikan umum, juga lembaga pendidikan Islam maupun pondok pesantren.

Sebelum ke Staimafa, SBY berkunjung ke kediaman Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh di Desa Kajen, Margoyoso, Pati. Presiden bersama Ibu negara Ani Yudhoyono hanya sekitar 15 menit di kediaman pengasuh Ponpes Maslakul Huda itu. Menurut Kiai Sahal, silaturahmi memiliki sejumlah manfaat. Selain menghindari miskomunikasi, dapat sebagai media saling mengingatkan.

Dia juga menjelaskan pentingnya peran pesantren dalam pendidikan dan dakwah kepada masyarakat. Keberadaan pesantren selalu diikuti perubahan dan perbaikan tatanan kemasyarakatan serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jangan Memfitnah
Ketika bersilaturahmi dengan 1.000 ulama dan mursyid Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Muktabaroh An-Nahdliyyah se-Indonesia, di hotel Gumaya, Jalan Gajahmada Semarang, SBY mengingatkan para ulama tentang pelaksanaan pemilihan presiden yang makin dekat.

’’Mari kita ajak masyarakat untuk mengikuti proses demokrasi dengan baik. Saya menghormati Bapak Jusuf Kalla dan Wiranto. Saya juga menghormati Ibu Megawati dan Pak Prabowo. Tidak baik fitnah-memfitnah, saling menyerang dan hujat-menghujat. Hormati satu dengan yang lain,’’ katanya.

SBY pada kesempatan itu didampingi sejumlah menteri antara lain Menag Maftuh Basyuni, Menkominfo Muhammad Nuh, Menseskab Sudi Silalahi, Mendiknas Bambang Sudibyo, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng dan staf khusus Mayjen TNI Kurdi Mustofa.

’’Alhamdulillah hampir semua kiai dan ulama yang kami undang, hadir mengikuti silaturahim ini,’’ kata Habib Lutfi bin Ali Yahya, Rois Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Muktabaroh An-Nahdliyyah.

Acara dibuat sangat singkat terdiri dari pembacaan Alquran qari internasional H Solihul Hadi, tausiyah Habib Lutfi dan pengarahan presiden. Upacara ditutup dengan pembacaan doa dipimpin KH Abdul Basyir dari Kudus.

Sejumlah kiai yang tampak hadir antara lain KH Muslim Riva Imampuro (Mbah Liem) Klaten, KH Ali Mas’ud Blater Kabupaten Semarang, KH Aziz Masyhuri Jombang, Jatim, Rois Syuriyah PWNU Jateng KH Masruri Mughni, dan KH Mahfudh Ridlwan Salatiga, dan juga mantan Gubernur Jateng Ali Mufiz.

Adapun Dr KHMA Sahal Mahfudh, Dr KH Mustofa Bisri, dan KH Maemun Zubair menunggu di rumah masing-masing karena Presiden dan Ibu Any Yudhoyono berkunjung ke pesantrennya.

Tetap Silaturahmi
Dalam sambutannya presiden mengatakan bahwasanya para calon presiden silakan berkompetisi. Namun hendaknya tidak boleh memutus silaturahmi.

”Pemilu kan hanya sebentar. Apa lantas selama lima tahun tidak bersatu lagi? Bermusuhan itu tidak baik,’’ katanya.
Selain itu, beliau juga mengajak untuk berpolitik yang sehat, santun dan beretika. ’’Serahkan semuanya pada Allah SWT dan rakyat sendiri yang akan memilih,’’ katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Habib Lutfi bin Ali Yahya menambahkan bahwa acara dalam rangka Kebangkitan Nasional Ke-101 tersebut merupakan perwujudan rasa syukur para ulama terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di Rembang, SBY juga bertemu ulama, ribuan santri, dan tokoh masyarakat setempat. Acara dipusatkan di Pondok Pesantren Al Anwar.

Presiden meminta agar pondok pesantren bisa terus berperan aktif dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik. ‘’Karena ciri-ciri masyarakat yang baik adalah masyarakat yang religius, rukun dan tertib,’’ katanya. (H19, H49,H55-46)

sesepuh kajen

sesepuh kajen

para tamu

pondok pesantren di kajen

Pesantren yang ada di Desa KAjen, dari ujung Barat samapai Ujung Timur.




PP. Maslakul Huda Putra



PP. Mambaul Huda


PP AN-NOOR


PP. AL-AMIN


PP. Mata Air


PP. Maslakul Huda Pusat


PP. Masyithoh


PP. Kauman


PP. Majelis Ta'lim



PP. APIK


PP. Raudloh


PP. Peasarean



PP. salafiyah





PP. Nadlotus Syu'ban

PP. Roudatul Athohiriyah



PP. Radlatul ulum


PP. Kulaon Banon



PP. Hajroh




PP. Al-Kautsar


PP. Al-Ba'diyah


* mohon bantuan, apa bila ada kekuarang atau kesalahan untuk menampilkan pondok pesantren pada halaman ini.
* silakan kirim email ke kamaluddindonesia@gmail.com tentang bantuan anda, untuk memperbaiki halaman ini. terimakasih.


masjid jami' kajen

video dokumenter masjid jami kajen >> lihat sekarang!!

namapak belum dibangun




di bangun kembali untuk meluaskan serambi masjid

Sejarah Masjid Jami Desa Kajen, Margoyoso, Pati
Pertahankan keaslian bangunan

Image

TIDAK ba­nyak masjid tua di Ka­bu­pa­ten Pati yang masih ter­lihat mempertahankan ar­sitekturnya yang kuno. Di antara sedikit masjid kuno yang masih di­pertahankan keasliannya ada­lah Masjid Jami Desa Ka­jen, Kecamatan Margoyoso, Pa­ti. Nuansa tempo dulu ma­sih terlihat pada masjid yang di­dirikan oleh KH Ahmad Muttammakin itu. Menurut pengurus masjid Desa Kajen, KH Muadz Thohir, renovasi ba­gian masjid terakhir kali di­lakukan pada tahun 1960-an. ”Saat itu hanya bagian sam­ping yang diperbaiki,” tu­turnya. Sementara itu din­ding ba­gian depan, sampai sa­at ini ma­sih tetap menggu­na­kan ka­yu. Bahkan sebagi­an kayu yang menjadi bagian ba­ngunan masjid, sudah ber­usia ratusan tahun. Meskipun sudah di­ma­kan usia, kayu yang mendominasi ba­ngun­an masjid masih terlihat cukup kuat.

Mengkilap
Selain banyak didominasi kayu, nuan­sa kuno pada bangunan Masjid Kajen juga bi­sa dilihat pada lantai masjid yang masih menggunakan tegel. Bentuk tegel seder­ha­na di masjid tadi telah berubah menjadi meng­kilap, karena umurnya sudah lebih da­ri seratus tahun.

Tidak hanya bentuk bangunannya yang khas. Aktivitas keagamaan di Mas­jid Desa Kajen juga cukup berbeda de­ngan masjid kebanyakan. Salah satunya terlihat saat pelaksanaan salat ta­rawih yang dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama men­ja­lankan salat tarawih dengan ba­caan Alquran sebanyak sa­tu juz. Sedangkan kelompok ke­dua menjalankan salat ta­ra­wih di serambi masjid de­ngan membaca surat-surat pendek.
Salat Jumat di masjid ter­sebut juga cukup khas. Kha­tib yang membacakan khotbah di Masjid Kajen biasanya menggunakan bahasa Arab pada semua bagian khotbah, baik khotbah pertama mau­pun kedua.

Waktu khotbah bisanya juga lebih singkat, sehingga jamaah yang tidak segera datang ke masjid setelah mendengar adzan akan ketinggalan mengikuti salat Jumat. Selain untuk salat, di masjid tadi juga sering dijumpai sejumlah santri yang sedang menghafalkan Alquran.

Menurut KH Muadz Thohir, saat ini Masjid Kajen dikelola Yayasan Pengelola Makam KH Ahmad Muttammakin. "Belum lama ini dilakukan perbaikan kolah (penampung air) yang menghabiskan ratusan juta, dananya juga dari pengelolaan makam," lanjutnya. Juk-pu.



PEMBANGUNAN MASJID JAMI' KAJEN





MASJID JAMI’ KAJENMasjid Jami’ Kajen yang terletak di jantung desa Kajen, didirikan pada masa KH. Ahmad Mutamakkin sekaligus diprakasai oleh beliau dan Syaikh Syamsudin ( mertua KH. Ahmad Mutamakkin). Adapun tahun berdirinya sampai sekarang belum ada yang tau pasti kapan berdirinya masjid jami’ kajen, namun seorang arkeologi pernah meneliti bahwa terdapat sejarah pembangunan masjid jami’ kajen, terdapat pada ornament-ornamen yang terdapat di mimbar masjid dan bagian depan masjid.

Dulunya masjid itu hanya berbentuk persegi, namun pada sekitar tahun 1960-an, masjid itu ditambah sayap (serambi masjid) atau keliling masjid sehingga menjadi lebih lebar, yang dipelopori oleh KH. Fahrozi. Selama ini masjid jami’ kajen telah mengalami perubahan sekitar 4 atau 5 kali, diantaranya pada masa KH. Ali Muhtar, KH. Salam dan KH. Fahruzi.

Peningalan dari masjid jami’ kajen yang masih asli sampai saat ini antara lain :

- Mimbar masjid, namun tempat letaknya sering dirubah .

- Dua tiang penyangga yang terletak di paling depan.

- Dua pintu yang berada didepan, yaitu berada di utara dan di selatan

- Empat tiang penyangga (soko gulu), yang mempunyai arti “hati”

- Kaligrafi yang terletak diatap tengah masjid- Sumur berada di selatan masjid.

- Bagian depan imam, disitu terdepat pesan dari KH. Ahmad mutamakkin yang tertulis (menggunakan arab pegon) “ seng pendetku ngusap ing mbun ” artinya, bahwa yang merasa keturunan KH. Ahmad Mutamakkin harus wudlu yakni Wajib melakukan Sholat 5 waktu.

- Dan juga, Tempat muadzin yang berada di lantai dua.

Pada hari sabtu tangal 16 januari 2010 masjid ini di bangun kembali, diketuai oleh KH. Ahmad Maudz Thohir, dengan mendatangkan seorang arsitek dari Kota Surabaya yang bernama Ir. Budi ( orang kongguchu). Dalam kurun waktu sekitar 4 bulan pembangunan masjid tahap pertama selesai, mencapai target yang telah ditentukan. yaitu sebelum Bulan Romadlon, dari rencana pembangunan masjid tersebut baru mencapai sepertiga dari keseluruhannya. Sampai saat ini pembangunan masjid tersebut menghabiskan dana sekitar 1,2 Miliyar, yang bersumber dari uang kas murni makam KH. Ahmad Mutamakkin.

Dalam pembangunann kali ini, tidak akan merubah bentuk masjid bagian dalam, karena untuk melestarikan peninggalan-peninggalan dari masjid jami’ kajen yang memiliki nilai arsitektur kuno tinggi. Yaitu dari batas lantai yang bermotif batik.

Rencana dari pembangunan masjid tersebut akan tedapat dua menara yang berada di timur laut dan barat daya, disertai pula dengan dua lantai berbetuk U yang mengelilingi bangunan lama masjid, serta pembangunan kembali tempat wudlu yang berada di sebelah selatan masjid dan juga akan dihiasi dengan taman yang berada disebelah timur masjid untuk memperindah masjid dan juga tempat istirahat untuk para jama’ah. Disebelah utara masjid sudah terdapat tempat wudlu desertai aula untuk remaja masjid jami’ kajen.

Disamping dari bangunan masjid jami kajen yang bermotif klasik, terdapat beberapa adat yang masih melekat sampai sekarang, diantaranya

- Penyampaian Khotbah oleh khotib pada hari jum’at, menggunakan bahasa Arab.

- Pelaksanaan sholat tarawih pada bulan puasa dilaksanakan dua kelompok, yaitu Tadris dan Qodo.

- Pada hari senin malam, diadakan pengajian di masjid.- Pada bulan Romahdlon juga diadakan rutinitas yaitu, pengajian setelah Sholat Subuh dan Ashar .

- Untuk pemilihan imam dan khotib sholat jum’at di masjid jami’ kajen dilakukan secara musyawarah oleh ulam’-ulama’ desa kajen. Dan pemilihan iman sholat ashar, maghrib, isya’ dan subuh langsung ditunjuk oleh seorang nadzir.

Sumber : KH. Ahmad Muadz Thohir


PASANG IKLAN


selep kajen jatayu furniture waroeng simon


pasang iklan?? klik disini